Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia melemah pada perdagangan Selasa (2/6/2026), tertekan oleh saham sektor keuangan dan kesehatan di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta prospek pembukaan kembali Selat Hormuz.
Melansir Reuters, Indeks acuan S&P/ASX 200 turun 0,9% ke level 8.647,40 pada perdagangan pagi waktu setempat, setelah sehari sebelumnya ditutup relatif datar.
Baca Juga: Trump Revisi Tarif Baja, Aluminium, dan Tembaga, Berlaku Hingga Akhir 2027
Sentimen pasar dibayangi perkembangan terbaru dari Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengatakan, pembicaraan dengan Iran masih berlangsung.
Namun, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington dan mempertimbangkan untuk mengakhiri gencatan senjata yang sebagian besar telah bertahan sejak awal April.
Di sisi lain, Lebanon mengumumkan gencatan senjata parsial antara kelompok Hezbollah dan Israel, yang dinilai sebagai langkah awal menuju deeskalasi konflik di kawasan.
Saham Bank dan Kesehatan Tertekan
Di pasar Sydney, sektor keuangan menjadi salah satu penekan utama indeks. Indeks sektor finansial merosot hingga 2,1% dan menyentuh level terendah sejak pertengahan Mei.
Baca Juga: Jensen Huang Tegaskan Nvidia Siap Hadapi Lonjakan Permintaan Chip AI
Empat bank terbesar Australia tercatat mengalami penurunan antara 1% hingga 2%, seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.
Sementara itu, saham sektor kesehatan turun hingga 1,5% dan menyentuh level terendah sejak 12 Mei. Saham perusahaan bioteknologi raksasa CSL Limited turun hampir 2%.
Saham Tambang dan Energi Menguat
Berbeda dengan sektor keuangan dan kesehatan, saham-saham pertambangan berhasil mencatatkan kenaikan berkat menguatnya harga komoditas logam industri, terutama tembaga dan aluminium.
Sektor tambang naik hingga 0,9%, dengan saham BHP Group dan Rio Tinto masing-masing menguat sekitar 1%.
Kenaikan juga terjadi pada sektor energi yang naik 0,6%, mengikuti harga minyak dunia yang masih bertahan dekat level tertinggi setelah reli tajam pada sesi sebelumnya.
Saham Woodside Energy naik 1,7%, didorong prospek pendapatan yang lebih baik dari kenaikan harga minyak mentah.
Baca Juga: Australia Resmi Naikkan Upah Minimum 4,75%, Jangkau 3 Juta Pekerja
Saham Teknologi Bersinar
Di tengah tekanan pasar yang lebih luas, sektor teknologi justru mencatatkan performa terbaik. Indeks teknologi melonjak hingga 4,3% dan mencapai level tertinggi sejak awal Februari.
Penguatan sektor ini sejalan dengan reli saham teknologi di Wall Street yang didorong optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Saham WiseTech Global dan Xero masing-masing melesat lebih dari 5%.
Baca Juga: Inflasi Korsel Sentuh Level Tertinggi 2 Tahun, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat
Northern Star Melonjak
Dari jajaran saham individual, Northern Star Resources menjadi sorotan setelah melonjak lebih dari 10%, berpotensi mencatat kinerja harian terbaik sejak Januari 2020.
Lonjakan tersebut terjadi setelah perusahaan investasi aktivis Elliott Investment Management mengungkapkan kepemilikan saham senilai lebih dari A$1 miliar atau sekitar US$715 juta di perusahaan tambang emas tersebut.
Sementara itu, di Selandia Baru, indeks acuan S&P/NZX 50 juga bergerak melemah 0,9% ke level 13.130,30, mencerminkan kehati-hatian investor regional terhadap perkembangan geopolitik dan pasar energi global.













