China: Amerika Provokator Nomor Satu Krisis Ukraina

Jumat, 12 Agustus 2022 | 06:22 WIB Sumber: Reuters
China: Amerika Provokator Nomor Satu Krisis Ukraina

ILUSTRASI. China menyebut Amerika Serikat sebagai provokator alias penghasut utama krisis Ukraina.

KONTAN.CO.ID - LONDON. China menyebut Amerika Serikat sebagai provokator alias penghasut utama krisis Ukraina. 

Melansir Reuters, dalam sebuah wawancara dengan kantor berita negara Rusia TASS yang diterbitkan pada hari Rabu (10/8/2022), duta besar China untuk Moskow, Zhang Hanhui, menuduh Washington menyudutkan Rusia dengan ekspansi berulang dari aliansi pertahanan NATO dan dukungan untuk pasukan yang berusaha menyelaraskan Ukraina dengan Uni Eropa ketimbang Moskow.

"Sebagai pemrakarsa dan penghasut utama krisis Ukraina, Washington, sementara memberlakukan sanksi komprehensif yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Rusia, terus memasok senjata dan peralatan militer ke Ukraina," kata Zhang seperti dikutip Reuters dari TASS.

Zhang menambahkan, "Tujuan utama mereka adalah untuk menguras dan menghancurkan Rusia dengan perang yang berlarut-larut dan pemberian sanksi."

Pernyataan duta besar China itu mengacu pada kondisi yang dialami Rusia sendiri atas invasinya ke Ukraina, yang telah mengakibatkan ribuan kematian dan kehancuran seluruh kota, serta mendorong lebih dari seperempat populasi meninggalkan rumah mereka.

Baca Juga: Pekan Depan, Presiden China Xi Jinping akan Kunjungi Arab Saudi

Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan perjalanan ke Beijing pada bulan Februari untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping ketika tank-tank Rusia berkumpul di perbatasan Ukraina. 

Pada waktu itu, kedua belah pihak menyetujui apa yang disebut kedua negara sebagai kemitraan "tanpa batas" yang lebih unggul daripada aliansi Perang Dingin mana pun.

Dalam wawancara tersebut, Zhang mengatakan hubungan Tiongkok-Rusia telah memasuki periode terbaik dalam sejarah, ditandai dengan tingkat rasa saling percaya tertinggi, tingkat interaksi tertinggi, dan kepentingan strategis terbesar.

Dia juga mengecam kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi pekan lalu ke Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri, yang diklaim China sebagai miliknya, dengan mengatakan Amerika Serikat sedang mencoba menerapkan taktik yang sama di Ukraina dan Taiwan untuk menghidupkan kembali mentalitas Perang Dingin.

Baca Juga: Respons Latihan Militer China di Taiwan, AS Pertimbangkan Penerapan Tarif ke China

"Taktik itu bertujuan menahan China dan Rusia, dan memprovokasi persaingan dan konfrontasi kekuatan besar," jelasnya.

Dia juga bilang, "Non-intervensi dalam urusan internal adalah prinsip paling mendasar untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di dunia kita." 

Seperti yang diketahui, Rusia menyebut invasi ke Ukraina sebagai "operasi militer khusus" dan mengatakan hal itu perlu dilakukan, tidak hanya untuk menjaga keamanannya sendiri tetapi juga untuk melindungi penutur bahasa Rusia dari penganiayaan.

Ukraina dan Barat mengatakan ini adalah dalih tak berdasar untuk perang agresi kekaisaran terhadap tetangga yang memperoleh kemerdekaan ketika Uni Soviet yang dipimpin Moskow bubar pada 1991.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru