Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Ekspor Jepang naik untuk bulan keenam berturut-turut pada Februari menunjukkan permintaan global yang tetap kuat, meskipun kenaikan tajam harga minyak akibat konflik Timur Tengah menjadi risiko bagi ekonomi terbesar keempat di dunia itu.
Data resmi Rabu (18/3/2026) menunjukkan, total ekspor Jepang meningkat 4,2% secara tahunan pada Februari, melampaui perkiraan median pasar yang hanya memprediksi kenaikan 1,6%.
Baca Juga: Iran Tolak Reduksi Ketegangan, Kepala Keamanan Ali Larijani Tewas Ditembak Israel
Pergeseran kalender Tahun Baru Imlek China juga memengaruhi data perdagangan beberapa bulan terakhir.
Liburan yang lebih lambat tahun ini membuat pengiriman barang ke China dipercepat pada Januari, sehingga ekspor Jepang secara keseluruhan naik 16,8% pada bulan tersebut.
Secara rinci, ekspor ke Amerika Serikat turun 8% dibandingkan tahun lalu, sedangkan ke China turun 10,9%. Sementara itu, ekspor ke negara-negara Asia lainnya naik 2,8%.
Impor Jepang meningkat 10,2% dari tahun sebelumnya, sedikit di bawah perkiraan pasar yang memprediksi kenaikan 11,5%.
Hasilnya, Jepang mencatat surplus perdagangan sebesar 57,3 miliar yen (sekitar US$360,65 juta) pada Februari, berbeda jauh dari perkiraan defisit 483,2 miliar yen.
Baca Juga: Di Tengah Konflik Timur Tengah, Industri Kripto di Dubai Tetap Tangguh
Ekonomi Jepang menunjukkan momentum pemulihan yang moderat, dengan pertumbuhan kuartal terakhir 2025 direvisi naik menjadi 1,3% secara tahunan, didorong investasi bisnis yang kuat.
Namun, analis memperingatkan bahwa biaya minyak yang meningkat dapat memicu risiko stagflasi, yang berpotensi membebani ekonomi yang sangat bergantung pada impor energi.
Bank of Japan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan dua hari yang berakhir Kamis ini, sambil menegaskan komitmennya menjaga bias pengetatan, karena yen yang lemah dan harga minyak yang tinggi menambah tekanan inflasi.













