kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

China ingin hindari perang dagang, tapi juga tidak takut membalas jika perlu


Jumat, 22 November 2019 / 14:57 WIB
China ingin hindari perang dagang, tapi juga tidak takut membalas jika perlu
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping disela pertemuan G20 di Osaka, Jepang 19 Juni 2019. Presiden Xi Jinping menegaskan, China ingin membuat perjanjian perdagangan dengan AS dan berusaha menghindari perang dagang.

Reporter: Khomarul Hidayat | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Bak gelar karet, perundingan dagang China dengan Amerika Serikat (AS) masih tarik ulur. Presiden China Xi Jinping menegaskan, China ingin membuat perjanjian perdagangan awal dengan AS dan berusaha menghindari perang dagang.

Namun, China juga tidak takut untuk membalas jika perlu. "Kami ingin bekerja untuk perjanjian fase satu atas dasar saling menghormati dan kesetaraan," kata Xi kepada perwakilan dari sebuah forum internasional, menurut sebuah laporan yang dikutip Reuters, Jumat (22/11).

Baca Juga: Senator AS mendesak administrasi Trump untuk menghentikan persetujuan lisensi Huawei

Xi menegaskan, bila perlu China akan melawan, tetapi China telah bekerja aktif untuk mencoba tidak melakukan perang dagang. "Kami tidak memulai perang dagang ini dan ini bukan sesuatu yang kami inginkan," tandasnya.

Pasar keuangan global tertekan pada minggu ini di tengah kekhawatiran baru bahwa pembicaraan perdagangan dapat gagal. Apalagi Presiden AS Donald Trump diperkirakan menandatangani dua undang-undang yang mendukung para pemrotes di kota Hong Kong yang dikuasai Tiongkok.

Penyelesaian kesepakatan perdagangan fase satu dapat meluncur ke tahun depan, demikian para pakar perdagangan dan orang-orang yang dekat dengan Gedung Putih mengatakan kepada Reuters.

Baca Juga: Sejalan dengan kepentingan, China berusaha keras capai kesepakatan dagang dengan AS

Penundaan hanya akan membawa lebih banyak masalah, kata Fred Hu, pendiri perusahaan investasi global Primavera Capital Group yang berbasis di China.

"Semakin lama waktu yang dibutuhkan, semakin banyak variabel di sana, seperti masalah Hong Kong," kata Hu kepada Reuters di sela-sela forum Bloomberg.



Video Pilihan

TERBARU

Close [X]
×