kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

China Perkuat Swasembada Energi Lewat Proyek Konversi Batubara


Jumat, 12 Juni 2026 / 19:31 WIB
China Perkuat Swasembada Energi Lewat Proyek Konversi Batubara
ILUSTRASI. China resmikan basis konversi batu bara terbesar di Inner Mongolia. (CFOTO/Sipa USA via Reuters Conne/Costfoto)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. China berencana membangun basis terbesar di negaranya untuk mengubah batubara menjadi minyak, gas, dan bahan kimia sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada impor energi.

Langkah ini mencerminkan semakin kuatnya fokus Beijing terhadap ketahanan energi di tengah dampak perang Iran yang mengganggu rantai pasok global.

Rencana tersebut dipusatkan di wilayah Inner Mongolia, daerah penghasil batubara terbesar di China sekaligus produsen energi terbarukan terbesar di negara itu. Kondisi tersebut menjadikan wilayah ini sebagai gambaran kompleksnya transisi energi China, di mana ketergantungan terhadap impor minyak masih berlangsung di tengah melimpahnya cadangan batu bara domestik.

Namun, proses konversi batubara menjadi produk berbasis minyak bumi juga dikenal sebagai salah satu sumber emisi karbon yang signifikan dan terus meningkat. Kondisi ini berpotensi menjadi tantangan bagi target iklim yang telah ditetapkan pemerintah China.

Wakil pejabat tertinggi Inner Mongolia, Huang Zhiqiang, mengatakan pemerintah daerah akan terus memperkuat kapasitas produksi industri berbasis batubara tersebut.

Baca Juga: Pinjaman Baru China Mei Naik Tipis, Sektor Properti Masih Tekan Kredit Rumah

"Kami sedang meningkatkan dan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri untuk proyek batubara menjadi minyak, batubara menjadi gas, dan batubara menjadi bahan kimia guna meningkatkan kemandirian pasokan minyak dan gas di dalam negeri," ujar Huang Zhiqiang dalam konferensi pers pada Kamis.

Meski industri ini berkembang pesat di China dan hampir tidak ditemukan dalam skala serupa di negara lain, volumenya masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan impor energi nasional.

Pada 2024, produksi gas, bahan bakar cair, dan bahan kimia hasil konversi batubara di China hanya mampu menggantikan sekitar 6% dari total impor minyak mentah dan gas yang masuk ke negara tersebut.

Investasi Baru Dorong Industri Batubara Menjadi Petrokimia

Meski kontribusinya masih terbatas, kapasitas produksi sektor ini terus bertambah. Pada Mei lalu, Kementerian Lingkungan Hidup China menyetujui proyek percontohan konversi batu bara menjadi olefin di Kota Ordos, Inner Mongolia.

Proyek senilai 22,1 miliar yuan atau sekitar US$ 3,3 miliar tersebut memiliki kapasitas produksi mencapai 800.000 ton per tahun. Olefin sendiri merupakan bahan baku utama dalam industri plastik dan berbagai produk kimia.

Keuntungan industri petrokimia berbasis batubara juga melonjak sejak pecahnya perang Iran. Penyebabnya, pelaku usaha dapat memanfaatkan batubara domestik yang lebih murah dibandingkan perusahaan petrokimia yang bergantung pada minyak sebagai bahan baku utama.

Emisi Karbon Menjadi Tantangan Target Iklim China

Di sisi lain, meningkatnya penggunaan batubara untuk industri petrokimia memunculkan kekhawatiran terkait emisi karbon.

Baca Juga: India Batasi Pembelian BBM di SPBU Imbas Gangguan Pasokan Timur Tengah

Saat ditanya mengenai strategi pemerintah dalam mengatasi dampak emisi dari proses tersebut, Huang Zhiqiang tidak memberikan jawaban secara langsung. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah daerah berupaya menyeimbangkan pemanfaatan cadangan batubara yang sangat besar dengan pengembangan energi terbarukan.

Menurutnya, kapasitas terpasang energi terbarukan kini telah mencapai sekitar 53% dari total kapasitas pembangkit di Inner Mongolia.

Dokumen pemerintah juga menunjukkan adanya rencana penggunaan hidrogen hijau dalam proyek konversi batubara menjadi bahan kimia. Meski demikian, sejumlah pemerhati energi bersih mengingatkan bahwa penggunaan hidrogen hijau tidak seharusnya dijadikan alasan untuk terus memperluas industri berbasis batu bara.

Inner Mongolia Kuasai Seperempat Produksi Batubara China

Huang mengungkapkan bahwa Inner Mongolia memproduksi sekitar 1,25 miliar hingga 1,28 miliar ton batubara setiap tahun, atau lebih dari seperempat total produksi nasional China.

Sekitar dua pertiga produksi tersebut berasal dari Kota Ordos, lokasi yang kini menjadi pusat pembangunan basis industri konversi batubara menjadi petrokimia terbesar di China.

Langkah ini menunjukkan bahwa di tengah percepatan transisi menuju energi bersih, Beijing masih memandang batubara sebagai aset strategis untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak dan gas di tengah ketidakpastian geopolitik global.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×