Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Pemerintah India resmi membatasi pembelian bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) guna mencegah kelangkaan pasokan di tengah terganggunya rantai pasok energi global akibat perang di Timur Tengah.
Mengutip Reuters, Jumat (12/6/2026), pemerintah India melarang pembeli komersial memperoleh bensin dan solar dari SPBU ritel serta membatasi pembelian solar maksimal 200 liter per pelanggan atau kendaraan setiap hari.
Kebijakan tersebut tertuang dalam perintah pemerintah yang diterbitkan pada Kamis malam waktu setempat. Dalam aturan itu juga ditegaskan bahwa pembeli tidak diperbolehkan menjual kembali bahan bakar yang telah dibeli.
Selama ini, pengguna komersial seperti perusahaan angkutan truk banyak membeli solar di SPBU milik perusahaan pelat merah karena harganya lebih murah dibandingkan harga di titik distribusi untuk pembelian dalam jumlah besar. Kondisi tersebut memicu kekurangan pasokan di sejumlah SPBU di beberapa wilayah.
Baca Juga: Waspada, Penelitian Ungkap Pengguna Glucosamine Rutin Menaikkan Risiko Demensia
Pemerintah India menyatakan pembatasan ini diperlukan untuk memastikan ketersediaan bensin dan solar yang merata bagi masyarakat, mencegah pengalihan distribusi maupun penimbunan, serta menjaga pasokan bahan bakar tetap lancar dengan harga yang wajar.
Selisih Harga Picu Perburuan Solar Murah
Solar, yang menyumbang sekitar 40% dari total konsumsi bahan bakar di India, dijual kepada pengguna industri dengan harga mengikuti mekanisme pasar. Harga tersebut sekitar 40 rupee per liter lebih mahal dibandingkan harga eceran di SPBU.
Akibat adanya perbedaan harga tersebut, penjualan solar oleh peritel swasta yang menetapkan harga lebih mendekati harga pasar anjlok hingga 58% pada bulan lalu. Sebaliknya, penjualan di SPBU milik perusahaan negara melonjak, bahkan di beberapa wilayah tercatat meningkat lebih dari 30%.
"Penerapan langkah ini ditujukan kepada konsumen besar atau pembeli dalam jumlah besar yang seharusnya tidak membeli solar dari SPBU ritel hanya untuk memanfaatkan keuntungan dari selisih harga tersebut," demikian bunyi pernyataan pemerintah India.
Profitabilitas Perusahaan Negara Tertekan
Meskipun India merupakan eksportir bersih produk bahan bakar hasil pengolahan minyak, meningkatnya penjualan domestik dengan harga yang lebih rendah mulai menekan profitabilitas perusahaan ritel milik negara.
Baca Juga: BOJ Bakal Kerek Suku Bunga ke Level Tertinggi, Tunda Pengurangan Pembelian Obligasi
Tiga perusahaan energi pelat merah, yakni Indian Oil Corporation, Bharat Petroleum Corporation (BPCL), dan Hindustan Petroleum Corporation (HPCL), menguasai sekitar 90% dari lebih dari 100.000 SPBU yang beroperasi di seluruh India.
Dalam peraturan tersebut, pemerintah juga menyinggung perang yang melibatkan Iran sebagai salah satu faktor yang meningkatkan ketegangan geopolitik global. Konflik tersebut dinilai telah memberikan tekanan terhadap rantai pasok minyak bumi internasional, logistik pengiriman, dan ketersediaan produk energi sehingga diperlukan pengelolaan pasokan dan langkah penghematan yang lebih hati-hati.
Pemerintah India menyatakan kebijakan pembatasan pembelian BBM ini akan berlaku untuk periode awal hingga 90 hari, kecuali jika dicabut lebih cepat melalui keputusan pemerintah.













