kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.709.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

BOJ Bakal Kerek Suku Bunga ke Level Tertinggi, Tunda Pengurangan Pembelian Obligasi


Jumat, 12 Juni 2026 / 18:05 WIB
BOJ Bakal Kerek Suku Bunga ke Level Tertinggi, Tunda Pengurangan Pembelian Obligasi
ILUSTRASI. JAPAN-BOJ/ (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Bank of Japan (BOJ) diperkirakan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada pertemuan minggu depan, sekaligus memberi sinyal kesiapannya untuk terus menaikkan biaya pinjaman, meski Gubernur Kazuo Ueda absen karena menjalani perawatan medis di rumah sakit. Fokus utama BOJ adalah menahan risiko inflasi yang meningkat akibat konflik di Timur Tengah.

Kenaikan ini akan menempatkan BOJ sejalan dengan bank sentral lain yang mulai mengetatkan kebijakan moneter, termasuk Bank Sentral Eropa yang melakukan kenaikan suku bunga yang telah lama ditunggu pada Kamis lalu. Ueda kini sedang menjalani perawatan dua minggu untuk kista hati yang terinfeksi, sehingga akan absen dari pertemuan dua hari yang berakhir 16 Juni.

Delapan anggota dewan lainnya, yang sebagian besar telah memperingatkan tekanan harga yang meningkat, kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1% dari 0,75%, level yang belum pernah terlihat sejak 1995. Saisuke Sakai, ekonom senior di Mizuho Research Institute, menekankan bahwa absennya Ueda tidak akan memengaruhi fokus institusi untuk menghadapi risiko inflasi yang meningkat dibanding risiko perlambatan ekonomi akibat perang di Timur Tengah.

Baca Juga: AS–Iran Disebut Siap Teken Kesepakatan Damai, Harga Minyak Langsung Turun

Kenaikan ini akan menjadi yang pertama sejak Desember dan menandai pergeseran dari pendekatan hati-hati BOJ dalam membongkar stimulus radikal pendahulu Ueda, menuju peran konvensional bank sentral dalam memerangi inflasi.

Dengan kenaikan bulan depan hampir sepenuhnya tercermin di pasar, perhatian investor kini bergeser ke waktu dan kecepatan kenaikan suku bunga berikutnya. Survei Reuters menunjukkan ekonom memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga menjadi 1,25% pada kuartal keempat, setelah kenaikan menjadi 1% pada Juni.

Salah satu hal yang akan diperhatikan investor adalah pernyataan Wakil Gubernur Shinichi Uchida, yang akan memimpin konferensi pers pasca-rapat menggantikan Ueda. Pasar akan mencari petunjuk apakah tanda-tanda inflasi yang meluas dapat mendorong BOJ mempercepat kenaikan suku bunga.

Meskipun tekanan energi, biaya impor yang meningkat akibat yen yang lemah, dan pasar tenaga kerja yang ketat memicu risiko inflasi, sumber Reuters menyebut BOJ saat ini melihat sedikit kebutuhan untuk menaikkan suku bunga lebih cepat atau berturut-turut, setidaknya sementara waktu, mengingat ketidakpastian dampak ekonomi dari perang di Iran.

Kenaikan suku bunga menjadi 1% akan menempatkan BOJ pada bagian bawah kisaran nominal 1,1%–2,5% yang dianggap netral bagi ekonomi, sehingga bank sentral perlu bergerak hati-hati. Namun, kecepatan kenaikan yang lambat selama ini dituding melemahkan yen, yang kini berada di sekitar level 160 per dolar AS, meningkatkan kemungkinan intervensi yen.

Di samping keputusan suku bunga, BOJ juga akan meninjau rencana taper obligasi pemerintah hingga Maret tahun depan dan menyusun rencana baru untuk tahun fiskal 2027 dan seterusnya. Sumber Reuters menyebut BOJ mempertimbangkan untuk menunda pengurangan pembelian obligasi mulai April 2027, guna menstabilkan pasar obligasi yang sedang gelisah akibat meningkatnya risiko inflasi dari perang di Timur Tengah.

Harga grosir Jepang naik 6,3% pada Mei dibanding tahun sebelumnya, percepatan tercepat dalam tiga tahun, karena perusahaan terus membebankan biaya energi yang meningkat akibat perang. Tekanan harga ini diperkirakan akan mendorong inflasi inti konsumen yang sempat turun di bawah target 2% BOJ karena subsidi pemerintah menjadi jauh di atas 2% menjelang akhir tahun, menurut para analis.

Baca Juga: Sepi Peminat, Piala Dunia 2026 Belum Mampu Dongkrak Pariwisata AS




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×