Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Coca-Cola menaikkan proyeksi laba tahunan 2026 seiring permintaan konsumen yang tetap kuat terhadap minuman bersoda bebas gula dan produk minuman premium. Strategi tersebut diharapkan mampu membantu perusahaan mengimbangi kenaikan biaya bahan baku, terutama di pasar Amerika Utara.
Pada Selasa (27/10/2026), perusahaan minuman asal Amerika Serikat ini memperkirakan laba per saham yang disesuaikan dengan mengesampingkan dampak perubahan mata uang akan tumbuh minimal 9% pada 2026. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya, yakni sebesar 7% hingga 8%.
Kinerja Coca-Cola tahun ini ditopang pertumbuhan volume penjualan berbagai merek minumannya. Kondisi tersebut berbeda dengan pesaingnya, PepsiCo, yang menghadapi pelemahan permintaan makanan ringan di Amerika Serikat.
Untuk menjangkau konsumen yang semakin selektif dalam berbelanja, Coca-Cola menawarkan kemasan lebih kecil dengan harga lebih terjangkau di pasar AS. Pada saat yang sama, perusahaan juga memperluas produk premium, termasuk Coca-Cola Cherry Float serta varian baru Topo Chico dan susu fairlife.
Baca Juga: Restrukturisasi Berhasil, Porsche Cetak Kenaikan Laba Tinggi di September 2026
Pertumbuhan pasar di India, China, Meksiko, dan Brasil turut mendukung peningkatan volume penjualan global. Coca-Cola mencatat volume penjualan dalam satuan unit kemasan atau unit case meningkat sekitar 5% pada tiga bulan yang berakhir 2 Oktober 2026.
Namun, volume penjualan Coca-Cola di Amerika Utara tidak mengalami perubahan pada periode tersebut.
Pendapatan Coca-Cola Tumbuh 7,4% pada Kuartal III-2026
Di tengah tekanan biaya, Coca-Cola membukukan pertumbuhan pendapatan yang melampaui ekspektasi analis pada kuartal III-2026.
Berdasarkan data yang dihimpun LSEG, pendapatan Coca-Cola meningkat 7,4% menjadi US$ 13,38 miliar. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi analis sebesar US$ 12,92 miliar.
Laba per saham yang telah disesuaikan juga mencapai US$ 0,91, melampaui perkiraan analis sebesar US$ 0,88 per saham.
Meski mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang lebih baik dari ekspektasi, Coca-Cola masih menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya kemasan. Perusahaan menyebut harga aluminium dan plastik PET meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada tahun ini.
Tekanan tersebut berkaitan dengan kenaikan harga komoditas di tengah perang Amerika Serikat di Iran. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi dan menekan margin keuntungan perusahaan.
Baca Juga: Rusia-Ukraina Mulai Gencatan Senjata di Oleshky, Serangan di Wilayah Lain Berlanjut
Pada Juli 2026, Coca-Cola telah menyampaikan bahwa kenaikan biaya aluminium dan PET melampaui perkiraan awal perusahaan.
Saham Coca-Cola Menguat 33% Sepanjang 2026
Di pasar saham, saham Coca-Cola sempat memangkas kenaikan dan bergerak sedikit melemah dalam perdagangan sebelum pembukaan pasar pada Selasa.
Meski demikian, saham perusahaan tersebut telah menguat sekitar 33% sepanjang 2026. Kinerja itu menempatkan Coca-Cola pada jalur untuk mencatatkan kenaikan tahunan selama tiga tahun berturut-turut.
Penguatan saham tersebut terjadi di tengah pelemahan belanja konsumen yang lebih luas dan volatilitas pasar akibat perang Amerika Serikat di Iran.














