kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

Demo Biaya Hidup di Prancis Berujung Rusuh, 50 Gerai Carrefour Rusak


Minggu, 18 Oktober 2026 / 20:08 WIB
Demo Biaya Hidup di Prancis Berujung Rusuh, 50 Gerai Carrefour Rusak
ILUSTRASI. Kerusuhan di Prancis (REUTERS/Abdul Saboor)

Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - PARIS. Prancis mulai menghitung kerugian akibat salah satu gelombang kerusuhan terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Demonstrasi yang dipicu kenaikan biaya hidup dan memburuknya layanan publik berujung pada kekerasan, menewaskan satu demonstran, melukai ratusan polisi, serta menyebabkan hampir 1.800 orang ditangkap.

Melansir Reuters, kerusuhan pecah di berbagai kota pada Sabtu (17/10/2026). Sejumlah bangunan publik dibakar, toko-toko dijarah, dan dinding bangunan dipenuhi grafiti ketika kelompok massa bentrok dengan aparat kepolisian.

Baca Juga: China Siapkan Larangan Ekspor Teknologi Produksi Peralatan Tenaga Surya

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan, lebih dari 500 polisi terluka dalam kerusuhan tersebut. Di Paris, polisi menangkap 855 orang, jumlah yang disebut sebagai rekor.

Sementara itu, seorang demonstran meninggal dunia setelah mengalami henti jantung ketika mengikuti aksi di ibu kota.

Lebih dari 500.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai kota. Aksi tersebut menjadi pertemuan antara gerakan mahasiswa yang telah berlangsung selama sebulan dan ketidakpuasan masyarakat yang lebih luas terhadap kenaikan biaya hidup serta penurunan kualitas layanan publik.

Presiden Emmanuel Macron dijadwalkan menyampaikan pidato kepada masyarakat pada Minggu (18/10/2026) pukul 20.00 waktu setempat, menurut kantor kepresidenan.

Baca Juga: Melunak, Donald Trump Batalkan Sanksi dan Tarif Dagang yang Terkait Rusia

Ratusan Toko Terdampak

Meski ratusan ribu demonstran berunjuk rasa secara damai, kelompok-kelompok yang terlibat dalam kekerasan menyerang bangunan publik, menjarah butik mewah dan supermarket, serta menyerang kendaraan dan personel kepolisian.

Operasi pembersihan dimulai di berbagai kota, mulai dari Lille di utara hingga Marseille di selatan, serta Strasbourg di timur dan Bordeaux di barat daya. Di Bordeaux, sekelompok orang bertopeng bahkan menerobos kediaman pejabat prefektur setempat.

Nunez mengatakan, beberapa ratus toko mengalami kerusakan pada Sabtu. Di Paris, pecahan kaca etalase, sepeda yang hangus terbakar, dan coretan slogan menjadi jejak kerusuhan yang bermula dari demonstrasi damai sebelum berubah menjadi aksi kekerasan.

Baca Juga: 10 Saham Bank AS Pilihan Miliarder di 2026, Capital One Terfavorit

Di Limoges, Prancis barat daya, balai kota berusia 143 tahun terbakar dan sebagian bangunannya hancur akibat pembakaran. Peristiwa tersebut mengingatkan warga pada kebakaran Katedral Notre-Dame di Paris pada 2019.

Wali Kota Limoges Guillaume Guerin mengatakan, serangan itu menunjukkan adanya niat yang terencana untuk membakar balai kota, sehingga orang-orang di dalam bangunan khawatir akan keselamatan mereka.

Guerin bahkan mengancam akan mengundurkan diri jika pemerintah tidak menyediakan dana sebesar € 1 juta untuk memperbaiki bangunan bersejarah tersebut.

Kerusuhan ini meningkatkan tekanan terhadap Macron dan pemerintahannya menjelang pemilihan presiden tahun depan. Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyalahkan kelompok kiri ekstrem dan pelaku kriminal atas kekerasan yang terjadi.

Menteri Ekonomi Roland Lescure pada Minggu menjanjikan dukungan bagi pemilik usaha yang mengalami kerugian. Pemerintah juga menegaskan bahwa pelaku perusakan harus bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan.

“Pihak yang merusak akan membayar, memperbaiki kerusakan, dan dimintai pertanggungjawaban atas niat mereka menebar kekacauan,” kata Lescure dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: 10 Kota dengan Kualitas Lingkungan Terburuk di Dunia 2026, Semua Ada di Asia

Wali Kota Bordeaux Thomas Cazenave mengatakan, hingga 100 toko di kotanya mungkin telah dijarah. Sementara itu, Wali Kota Marseille Benoit Payan mengumumkan bantuan keuangan darurat bagi pelaku usaha yang terdampak kekerasan.

Dampak kerusuhan juga dirasakan jaringan ritel besar. Kepala Eksekutif Carrefour Alexandre Bompard mengatakan kepada BFMTV bahwa 50 gerai perusahaan mengalami kerusakan, termasuk 20 gerai yang dijarah. Kerugian akibat kerusakan tersebut diperkirakan mencapai puluhan juta euro.

Aksi protes bermula bulan lalu, dipicu persoalan kondisi sekolah dan kekurangan guru di kawasan pinggiran berpenghasilan rendah.

Gerakan tersebut kemudian meluas menjadi protes terhadap ketimpangan sosial, pemangkasan belanja publik, dan kenaikan biaya hidup.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?


TERBARU

×