Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Serangan siber terhadap sistem pendingin ratusan supermarket di Prancis menyebabkan gangguan operasional dan kerusakan bahan makanan. Serangan yang terjadi pada akhir pekan tersebut diduga memanfaatkan celah keamanan pada perangkat pengelola sistem pendingin.
Peretas yang belum teridentifikasi dilaporkan mengakses sistem secara jarak jauh sehingga suhu lemari pendingin hingga freezer meningkat. Akibatnya, sejumlah produk makanan yang membutuhkan penyimpanan bersuhu rendah mengalami kerusakan.
Otoritas Prancis masih menyelidiki insiden tersebut. Jaksa di Paris menggambarkan kejadian ini sebagai serangan berskala besar, sementara nilai kerugian keseluruhan belum diketahui secara pasti.
CEO Intermarché, Thierry Cotillard, mengatakan kepada stasiun televisi BFM TV bahwa kerugian akibat serangan tersebut berpotensi mencapai puluhan juta euro.
Selain merusak bahan makanan, insiden ini juga dilaporkan memicu kebakaran di sejumlah lokasi. Namun, hubungan antara kebakaran dan serangan siber tersebut masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
Kantor Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menyatakan bahwa Badan Keamanan Siber Nasional Prancis (ANSSI) tengah menyelidiki insiden tersebut bersama pihak terkait.
Baca Juga: Berkshire Suntik US$ 330 Juta, Saham Bending Spoons Melonjak 34%
Sejumlah jaringan supermarket besar terdampak
Serangan siber tersebut dilaporkan memengaruhi beberapa jaringan ritel besar di Prancis. Berikut sejumlah peritel yang disebut terdampak:
- Intermarché: sekitar 150 toko terdampak.
- Carrefour: sekitar 80 toko terdampak.
- Monoprix: sekitar 25 toko, atau kurang lebih 5% dari total 490 tokonya di Prancis.
- Coopérative U: jumlah toko terdampak belum diketahui secara pasti.
Felix Aime, analis intelijen ancaman siber senior di Sekoia Threat Detection and Research, mengatakan bahwa organisasi di negara Eropa lain, termasuk Spanyol, Portugal, Polandia, Jerman, dan Belgia, juga diduga menjadi sasaran.
Meski demikian, cakupan serangan secara keseluruhan dan jumlah pasti organisasi yang terdampak masih belum diketahui.
CEO Coopérative U, Dominique Schelcher, mengatakan kepada The Guardian bahwa serangan terhadap perangkat yang berperan penting dalam menjaga kesegaran produk dan kelancaran pasokan pangan merupakan insiden serius yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga: Michelle Bowman Sebut The Fed Belum Perlu Terburu-buru Naikkan Suku Bunga
Firmware usang diduga menjadi celah keamanan
Penyelidikan awal menemukan indikasi bahwa serangan berkaitan dengan kerentanan pada sistem pengelolaan pendingin buatan perusahaan teknik asal Denmark, Danfoss.
Dalam pernyataannya, Danfoss mengakui mengetahui adanya insiden di Prancis yang memengaruhi sejumlah sistem pengelolaan pendingin. Perusahaan tersebut menyebut penggunaan firmware versi lama sebagai faktor utama yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
Firmware merupakan perangkat lunak yang tertanam pada perangkat elektronik dan berfungsi mengendalikan operasi perangkat keras. Jika tidak diperbarui, firmware berpotensi menyisakan kerentanan keamanan yang dapat dimanfaatkan penyerang.
Meski demikian, rincian teknis mengenai cara peretas memperoleh akses, metode serangan yang digunakan, serta hubungan langsung antara kerentanan tersebut dan seluruh insiden belum diungkapkan secara lengkap.
Kasus ini menyoroti risiko keamanan pada teknologi operasional atau operational technology (OT), yakni sistem yang digunakan untuk memantau dan mengendalikan perangkat fisik, termasuk mesin industri, sistem ventilasi, serta peralatan pendingin.
Berbeda dengan sistem teknologi informasi yang terutama mengelola data, sistem OT juga memengaruhi kondisi fisik dan operasional suatu fasilitas. Gangguan pada sistem ini dapat berdampak langsung terhadap produksi, penyimpanan barang, dan distribusi produk.
Ketika perangkat OT terhubung ke jaringan internet tanpa perlindungan memadai, peretas berpotensi memanfaatkannya sebagai pintu masuk untuk mengganggu operasional perusahaan.
Dalam sejumlah serangan siber, pelaku juga menggunakan ransomware untuk melumpuhkan sistem dan menekan korban agar memenuhi tuntutan mereka. Namun, belum ada konfirmasi bahwa ransomware digunakan dalam serangan terhadap supermarket di Prancis ini.
Baca Juga: Houthi Serang Arab Lagi, Sejumlah Negara Tunda Perjalanan Umrah, Bagaimana Indonesia?
Serangan siber menjadi ancaman bagi industri pangan
Serangan terhadap sistem pendingin supermarket memperlihatkan bahwa risiko keamanan siber tidak hanya berkaitan dengan pencurian data atau gangguan layanan digital. Serangan juga dapat memicu kerugian fisik, termasuk kerusakan barang dan terhambatnya distribusi produk pangan.
Sistem pendingin memiliki peran penting dalam menjaga kualitas dan keamanan bahan makanan yang mudah rusak. Jika suhu penyimpanan meningkat dalam waktu tertentu, produk seperti daging, ikan, produk susu, dan makanan beku dapat kehilangan kualitas atau tidak lagi layak dikonsumsi.
Karena itu, gangguan terhadap sistem pendingin dapat menimbulkan kerugian berlapis, mulai dari pemusnahan stok, gangguan operasional toko, hingga biaya pemulihan sistem.
Risiko serupa juga menjadi perhatian industri makanan dan minuman secara global. Menurut data perusahaan teknologi Infor yang dikutip FoodNavigator, persentase korban ransomware yang terpaksa menghentikan operasional meningkat dari 45% pada 2021 menjadi 58% pada 2025.
Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak operasional yang dapat ditimbulkan serangan ransomware. Namun, data itu tidak secara khusus menggambarkan seluruh jenis serangan siber pada sektor pangan.
Sebelumnya, peritel Inggris Marks & Spencer juga mengalami serangan siber yang mengganggu operasional dan menyebabkan kerugian penjualan yang dilaporkan mencapai 324 juta pound sterling.
Berbagai insiden tersebut mendorong perusahaan ritel dan industri pangan untuk memperkuat keamanan sistem digital sekaligus memastikan perangkat pengendali operasional terlindungi.
Langkah mitigasi dapat mencakup pembaruan firmware secara berkala, pembatasan akses jarak jauh, pemisahan jaringan teknologi operasional dari jaringan umum, serta pemantauan anomali pada sistem pengendali.
Selain itu, perusahaan perlu menyiapkan prosedur operasional darurat apabila sistem pendingin mengalami gangguan, termasuk mekanisme pemeriksaan suhu dan pengamanan produk yang membutuhkan rantai dingin.
Hingga penyelidikan di Prancis selesai, penyebab teknis secara menyeluruh, identitas pelaku, dan total kerugian akibat serangan tersebut masih belum dipastikan.
Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/10/14/16040017/hacker-bobol-ratusan-kulkas-supermarket-picu-kebakaran-di-sejumlah-lokasi?page=all#page2.














