kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.581.000   -14.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.992   80,00   0,45%
  • IDX 6.010   -61,64   -1,02%
  • KOMPAS100 774   -11,44   -1,46%
  • LQ45 592   -8,80   -1,46%
  • ISSI 208   -2,25   -1,07%
  • IDX30 328   -4,71   -1,41%
  • IDXHIDIV20 419   -5,32   -1,25%
  • IDX80 88   -1,32   -1,47%
  • IDXV30 114   -0,94   -0,82%
  • IDXQ30 107   -1,23   -1,13%

Dolar AS Kian Perkasa Terdongkrak Aksi Jual Obligasi Global


Jumat, 02 Oktober 2026 / 04:59 WIB
Dolar AS Kian Perkasa Terdongkrak Aksi Jual Obligasi Global
ILUSTRASI. Dolar AS (REUTERS/Feisal Omar)


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - NEW YORK/LONDON. Dolar Amerika Serikat (AS) naik ke level tertinggi dalam 17 bulan terhadap euro pada Kamis (1/10/2026) karena aksi jual obligasi global mendorong imbal hasil (yield) pemerintah AS dan Eropa ke rekor tertinggi baru. Sisi lain, kenaikan harga minyak dunia memicu kekhawatiran inflasi.

Mata uang Eropa jatuh ke bawah US$ 1,1215 untuk pertama kalinya sejak Mei 2025 terhadap dolar AS, yang terus menguat selama beberapa bulan terakhir. Penguatan dolar AS sebagian berkat kenaikan kuartalan tertinggi pada imbal hasil obligasi US Treasury sejak 1994.

Euro terakhir tercatat turun 0,77% terhadap dolar ke level US$ 1,12433. Mata uang ini turun hampir 2,5% pada bulan September, penurunan bulanan terbesar sejak Juli 2025.

"Imbal hasil yang lebih tinggi didorong oleh kombinasi berbagai faktor, khususnya kekhawatiran mengenai kebijakan fiskal—termasuk pelemahan di pasar obligasi Prancis yang mungkin berdampak ke pasar global—serta kekhawatiran berkelanjutan seputar harga energi dan inflasi yang lebih tinggi," kata Brian Daingerfield, Kepala Strategi Valas (FX) G10 di NatWest Markets seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: FTSE 100 Anjlok 1,68%, Lonjakan Yield Tekan Saham Bank Inggris

Daingerfield menyebut, ada ekspektasi pasar akan pengetatan kebijakan yang berkelanjutan dari bank-bank sentral, termasuk Federal Reserve.

"Kami melihat sedikit penurunan dalam beberapa hari terakhir, khususnya setelah rilis data PCE kemarin. Namun, menurut saya pandangan umumnya adalah bahwa pengetatan tambahan dari The Fed kemungkinan besar akan terjadi," ujar Daingerfield.

Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2002 pada hari itu. Imbal hasil tersebut terakhir turun 5,65 basis poin menjadi 5,237%.

Euro juga merosot terhadap yen dan franc Swiss, serta nyaris tidak mampu bertahan di zona positif terhadap poundsterling, seiring lonjakan imbal hasil obligasi Prancis—yang tertekan oleh kekhawatiran mengenai kondisi keuangan Prancis yang rapuh—ke level tertinggi baru dalam 14 tahun. Obligasi acuan Jerman juga turut mendapat tekanan jual.

"Selama beberapa minggu terakhir, penguatan dolar AS terus terjadi dan sesekali muncul narasi baru yang memberikan dorongan tambahan," ujar Amo Sahota, direktur di Klarity FX.

Namun, menurut dia, faktor terbaru inilah yang paling mengkhawatirkan, yakni kepanikan di pasar Eropa. Utang Prancis sudah terlalu tinggi, ditambah lagi melebarnya selisih imbal hasil antara Prancis dan Jerman membuat semua pihak cemas. Akibatnya, euro kehilangan banyak nilainya karena hal tersebut, dan tren pelemahan itu kembali berakselerasi.

Data pada hari Rabu menunjukkan inflasi AS pada bulan Agustus naik lebih rendah dari perkiraan, disertai revisi ke bawah untuk angka bulan Juli, yang menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan ini. Namun, lonjakan inflasi di zona euro mempertegas ancaman harga energi yang lebih tinggi terhadap ekonomi global.

Baca Juga: Yield Obligasi Sejumlah Negara Tembus Rekor Tertinggi Lagi, Biaya Utang Kian Mahal

Naik Enam Kuartal Berturut

Dolar AS mencatatkan kenaikan selama enam kuartal berturut-turut terhadap sekeranjang mata uang utama dunia hingga akhir September.

Ini merupakan periode penguatan dolar AS terpanjang sejak 2022, saat suku bunga AS naik lebih cepat dibandingkan wilayah lain. Indeks dolar AS terakhir tercatat naik 0,51% pada hari itu, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak April 2025.

Obligasi global mengalami penurunan bulanan terbesar dalam beberapa tahun terakhir pada bulan September—yang mendorong kenaikan imbal hasil—akibat kombinasi memburuknya keuangan pemerintah, membanjirnya penerbitan obligasi, dan meningkatnya inflasi.

Poundsterling turun 0,49% terhadap dolar ke level US$ 1,32 setelah sempat merosot 2,1% bulan lalu, namun tetap stabil terhadap euro; euro sendiri diperdagangkan di titik terlemahnya terhadap poundsterling sejak akhir Juni, yakni di kisaran 85,18 pence.

Yen Jepang melemah 0,41% terhadap dolar AS ke level 158,07 per dolar. Dolar Australia turun ke level terendah dalam tiga bulan di angka $0,69040 setelah inflasi domestik tercatat di bawah perkiraan.

Baca Juga: Konflik di Timur Tengah Menekan Biaya Produksi Manufaktur Global


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×