kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.690   104,00   0,59%
  • IDX 6.437   -286,27   -4,26%
  • KOMPAS100 854   -39,66   -4,44%
  • LQ45 635   -22,88   -3,48%
  • ISSI 233   -10,38   -4,27%
  • IDX30 361   -10,72   -2,89%
  • IDXHIDIV20 445   -10,29   -2,26%
  • IDX80 98   -4,04   -3,97%
  • IDXV30 126   -3,34   -2,57%
  • IDXQ30 116   -2,95   -2,48%

Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak


Senin, 18 Mei 2026 / 09:39 WIB
Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak
ILUSTRASI. Dolar AS menguat drastis akibat konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak. Analis memprediksi reli berlanjut. (Reuters/Marcos Brindicci)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia pada perdagangan Senin (18/5/2026). Penguatan dolar didorong oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak, serta aksi jual obligasi global yang menekan minat investor terhadap aset berisiko.

Mengutip Reuters, euro terakhir diperdagangkan di level US$ 1,1609, sementara poundsterling berada di posisi US$ 1,3305. Keduanya melemah lebih dari 0,1% terhadap dolar AS.

Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia yang sensitif terhadap sentimen risiko turun 0,4% ke level US$ 0,7121. Sementara itu, dolar Selandia Baru relatif stabil di posisi US$ 0,5827.

Adapun indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, menguat tipis ke level 99,393.

Penguatan dolar terjadi seiring kenaikan harga minyak dunia. Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik lebih dari 1% hingga menembus level US$ 110 per barel setelah sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab dilaporkan diserang. Di sisi lain, upaya mengakhiri konflik antara AS-Israel dan Iran juga dinilai mengalami kebuntuan.

Baca Juga: WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Darurat Kesehatan Global

Analis Barclays dalam catatannya menyebut kondisi pasar saat ini mendukung reli dolar AS berlanjut pada pekan ini.

"Tampaknya kondisi aset berisiko dan pasar obligasi sedang memburuk, dan situasi saat ini mendukung reli dolar AS untuk berlanjut pekan ini," tulis Barclays.

Barclays juga menilai tanda-tanda bahwa Selat Hormuz akan tetap mengalami gangguan dalam jangka lebih panjang turut memberikan tekanan kenaikan terhadap harga minyak. Menurut mereka, dolar AS berpotensi menguat 0,5% hingga 1% setiap kali harga minyak naik 10%.

Di saat yang sama, aksi jual obligasi global terus membebani sentimen pasar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di level tinggi di tengah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dari Timur Tengah dapat memicu inflasi lebih lanjut.

Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terakhir berada di level 4,607%, sementara obligasi tenor dua tahun berada di 4,085%, mendekati level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Christopher Wong, analis valuta asing dari OCBC, mengatakan dolar AS masih berpeluang melanjutkan penguatan selama yield obligasi tetap tinggi dan pasar memperkirakan kebijakan bank sentral AS akan tetap agresif.

Baca Juga: Sidang Pemakzulan Sara Duterte Dimulai, Politik Filipina Kian Memanas

"Dalam jangka pendek, dolar AS kemungkinan tetap diminati saat terjadi pelemahan jika imbal hasil obligasi tetap tinggi dan pasar terus memperkirakan respons The Fed yang lebih hawkish," ujar Wong.

Pelaku pasar pekan ini juga akan mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan data awal Purchasing Managers' Index (PMI) AS.

Kedua indikator tersebut diperkirakan memberikan gambaran mengenai tingkat kekhawatiran Federal Reserve terhadap inflasi yang masih tinggi serta ketahanan aktivitas ekonomi AS di tengah kondisi keuangan yang semakin ketat.

Sementara itu terhadap yen Jepang, dolar AS diperdagangkan di level 158,84 yen, naik tipis 0,04% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di AS. Pelemahan yen kembali memicu kewaspadaan investor terhadap kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.

Di pasar China, yuan offshore diperdagangkan di level 6,8163 per dolar AS menjelang rilis data aktivitas ekonomi China yang dijadwalkan keluar pada Senin waktu setempat.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×