kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.743.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 18.216   166,00   0,92%
  • IDX 5.383   -212,23   -3,79%
  • KOMPAS100 708   -28,14   -3,82%
  • LQ45 537   -21,16   -3,79%
  • ISSI 186   -8,29   -4,26%
  • IDX30 304   -12,51   -3,96%
  • IDXHIDIV20 376   -15,29   -3,90%
  • IDX80 81   -3,14   -3,74%
  • IDXV30 104   -2,74   -2,57%
  • IDXQ30 98   -4,65   -4,55%

Laba Maskapai Global Terancam, Proyeksi 2026 Dipangkas Separuh!


Senin, 08 Juni 2026 / 12:50 WIB
Laba Maskapai Global Terancam, Proyeksi 2026 Dipangkas Separuh!
ILUSTRASI. IATA memperkirakan industri penerbangan akan membukukan laba bersih gabungan sebesar US$ 23 miliar pada 2026 (REUTERS/Denis Balibouse)


Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - RIO DE JANEIRO. Industri penerbangan global berpotensi memangkas proyeksi laba tahun 2026 hingga separuhnya. Alasannya, konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan biaya bahan bakar serta mengganggu penerbangan di koridor udara utama.

Ini terungkap dalam laporan tahunan International Air Transport Association (IATA). Asosiasi maskapai ini beranggotakan lebih dari 370 maskapai penerbangan yang menguasai sekitar 85% lalu lintas udara global.

Dalam laporan tahunannya, IATA memperkirakan industri penerbangan akan membukukan laba bersih gabungan sebesar US$ 23 miliar pada 2026. Angka tersebut jauh di bawah proyeksi sebelumnya sekitar US$ 41 miliar dan turun dari US$ 45 miliar pada 2025.

Baca Juga: Gempa 7,8 M Guncang Filipina Selatan, Peringatan Tsunami Berlaku hingga Indonesia

“Ada dua faktor utama. Pertama, kenaikan harga bahan bakar jet yang signifikan, yang jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan siapa pun. Kedua, gangguan terhadap maskapai penerbangan di wilayah Teluk, sehingga kombinasi tersebut telah menyebabkan kami menurunkan proyeksi laba,” kata Direktur Jenderal IATA Willie Walsh, seperti diberitakan Reuters, Senin (8/6/2026).

Penurunan proyeksi ini menggarisbawahi kerentanan maskapai penerbangan terhadap guncangan geopolitik dan volatilitas bahan bakar. Kondisi ini terjadi meski permintaan penumpang tetap kuat, okupansi penumpang juga tetap optimal, dan pendapatan diperkirakan meningkat menjadi lebih dari US$ 1,1 triliun.

IATA memperkirakan pendapatan industri akan meningkat 9,4% menjadi sekitar US$ 1,16 triliun tahun ini, didorong oleh permintaan perjalanan yang stabil, tarif yang lebih tinggi, dan pendapatan yang meningkat dari layanan tambahan seperti peningkatan kelas kursi dan layanan di dalam pesawat.

Baca Juga: Xi Jinping Sebut Hubungan China-Korea Utara Masuki Titik Awal Baru

Konflik Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan udara AS dan Israel terhadap Iran, telah memaksa maskapai penerbangan untuk mengubah rute penerbangan di sekitar wilayah udara yang ditutup atau dibatasi, menambah jam terbang pada beberapa perjalanan, meningkatkan konsumsi bahan bakar, dan memperketat kapasitas yang sudah terbatas.

Pada saat yang sama, harga minyak melonjak karena kekhawatiran akan gangguan pasokan, mendorong harga bahan bakar jet naik tajam dan memperluas margin penyulingan, sehingga maskapai penerbangan menghadapi lonjakan tajam dalam biaya terbesar mereka.

Maskapai penerbangan Teluk seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways, menghadapi ketidakpastian operasional terbesar setelah penutupan hampir total wilayah udara regional pada awal konflik.

Baca Juga: Survei Ekonom Reuters: Prancis Diprediksi Tekuk Spanyol di Final Piala Dunia 2026

Walsh mengatakan, sebagian besar wilayah seharusnya tetap bisa menghasilkan keuntungan, meskipun pada tingkat yang lebih rendah. Sementara maskapai penerbangan Timur Tengah kemungkinan akan merugi karena konflik dan permintaan yang lebih lemah.

IATA memperkirakan tagihan bahan bakar maskapai penerbangan akan melonjak menjadi sekitar US$ 350 miliar tahun ini dari sekitar US$ 252 miliar pada tahun 2025. Bahan bakar menyumbang hampir sepertiga dari biaya operasional.

Kondisi tersebut akan mengikis profitabilitas per penumpang. Maskapai penerbangan sekarang diperkirakan akan menghasilkan sekitar US$ 4,50 per penumpang, kira-kira setengah dari level tahun lalu.

Baca Juga: OCBC Luncurkan Layanan Perdagangan dan Penyimpanan Emas Fisik di Singapura

Walsh mengatakan, ia memperkirakan beberapa maskapai penerbangan kecil akan bangkrut atau diambil alih oleh maskapai penerbangan yang lebih besar tahun ini dan tahun depan. Ini efek tingginya biaya bahan bakar.

Sekadar informasi, Spirit Airlines, salah satu maskapai penerbangan berbiaya rendah di Amerika Serikat (AS), menghentikan operasionalnya bulan lalu. Ini maskapai penerbangan pertama yang menjadi korban perang Iran.

Walsh menyebut, maskapai penerbangan juga diperkirakan akan memangkas rute yang tidak menguntungkan untuk melindungi margin. Sementara tarif yang telah melonjak sejak awal perang Iran kemungkinan tidak akan turun dalam waktu dekat.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×