kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.978   18,00   0,11%
  • IDX 7.321   -264,62   -3,49%
  • KOMPAS100 1.020   -39,96   -3,77%
  • LQ45 749   -27,08   -3,49%
  • ISSI 256   -10,71   -4,01%
  • IDX30 396   -14,53   -3,54%
  • IDXHIDIV20 491   -15,97   -3,15%
  • IDX80 115   -4,31   -3,63%
  • IDXV30 133   -4,52   -3,29%
  • IDXQ30 128   -4,76   -3,59%

Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Brent Terbang 20% ke US$ 111 di Pagi Ini (9/3)


Senin, 09 Maret 2026 / 08:41 WIB
Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Brent Terbang 20% ke US$ 111 di Pagi Ini (9/3)


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Harga minyak melanjutkan reli dan melonjak sekitar 20% pada awal perdagangan hari ini dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Sentimen datang karena meluasnya perang AS-Israel dengan Iran menyebabkan beberapa produsen minyak utama Timur Tengah mengurangi pasokan karena kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman melalui jalur sempit Selat Hormuz.

Senin (9/3/2026) pukul 08.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Mei 2026 melonjak US$ 18,35 atau 19,8% ke US$ 111,04 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman April 2026 melesat US$ 16,50 atau 18,2% menjadi US$ 107,40 per barel, setelah sebelumnya naik hingga US$ 20,34, atau 22,4% ke US$ 111,24 pada awal sesi perdagangan.

Brent naik 27% dan WTI naik 35,6% pekan lalu, sebelum lonjakan terbaru ini.Irak dan Kuwait telah mulai mengurangi produksi minyak, menambah pengurangan gas alam cair sebelumnya dari Qatar, karena perang tersebut menghalangi pengiriman dari Timur Tengah.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Sudah Tembus US$ 100 Per Barel!

Para analis memperkirakan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi juga harus segera mengurangi produksi karena kehabisan tempat penyimpanan minyak.

Perang tersebut dapat menyebabkan konsumen dan bisnis di seluruh dunia menghadapi harga bahan bakar yang lebih tinggi selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan bahkan jika konflik yang baru berlangsung seminggu ini berakhir dengan cepat, karena pemasok bergulat dengan fasilitas yang rusak, logistik yang terganggu, dan peningkatan risiko terhadap pengiriman.

"Saya pikir harga telah menguat pagi ini karena laporan bahwa produsen Timur Tengah sekarang mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan cepat penuh," kata Daniel Hynes, ahli strategi komoditas senior di ANZ.

“Tanda bahaya selanjutnya adalah apakah pada akhirnya akan sampai pada titik di mana mereka harus mulai menutup sumur-sumur minyak, yang tidak hanya berdampak lebih jauh pada produksi, tetapi juga menunda respons setelah konflik mereda. Itu berpotensi mempertahankan harga tersebut untuk waktu yang jauh lebih lama,” tambah Hynes.

Produksi minyak Irak dari ladang minyak utama di selatan telah turun 70% menjadi hanya 1,3 juta barel per hari karena negara tersebut tidak dapat mengekspor minyak melalui Selat Hormuz akibat perang dengan Iran, kata tiga sumber industri pada hari Minggu. Kapasitas penyimpanan minyak mentah telah mencapai maksimum, kata seorang pejabat dari Perusahaan Minyak Basra milik negara.

Kuwait Petroleum Corporation mulai mengurangi produksi minyak pada hari Sabtu dan menyatakan keadaan kahar (force majeure) pada pengiriman, meskipun tidak menyebutkan berapa banyak produksi yang akan dihentikan.

Baca Juga: Iran Pilih Jalur Konfrontasi Dibanding Kompromi Melawan AS, Ini Buktinya

Serangan Iran terhadap infrastruktur minyak di seluruh wilayah terus berlanjut. Kantor Media Fujairah mengatakan kebakaran terjadi di zona industri minyak Fujairah di UEA akibat jatuhnya puing-puing, tanpa ada laporan korban luka. Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengatakan pada tanggal X bahwa mereka mencegat sebuah drone yang menuju ke ladang minyak Shaybah.

PEMIMPIN BARU

Pada hari ini, Iran menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi, menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran seminggu setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

"Dengan penunjukan putra mendiang pemimpin sebagai pemimpin baru Iran, tujuan Presiden AS Donald Trump untuk mengganti rezim di Iran menjadi lebih sulit," kata Satoru Yoshida, analis komoditas di Rakuten Securities.

"Pandangan itu mempercepat pembelian, karena Iran diperkirakan akan terus menutup Selat Hormuz dan menyerang fasilitas negara-negara penghasil minyak lainnya, seperti yang terlihat minggu lalu," katanya, memprediksi harga WTI bisa naik menjadi US$ 120 dan kemudian US$ 130 per barel dalam waktu yang relatif singkat.

Militer Israel telah mengancam akan membunuh siapa pun pengganti Khamenei, sementara Trump mengatakan perang mungkin hanya akan berakhir setelah militer dan penguasa Iran dimusnahkan.

Baca Juga: Indeks Nikkei Jepang Longsor, Senin (9/3), Terpapar Lonjakan Harga Minyak Dunia

Sementara itu, seiring melonjaknya harga minyak, Pemimpin Demokrat Senat AS Chuck Schumer meminta Trump untuk melepaskan minyak dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR).

"Presiden Trump harus melepaskan minyak dari SPR sekarang untuk menstabilkan pasar, menurunkan harga, dan menghentikan guncangan harga yang sudah dirasakan keluarga Amerika akibat perang sembrono yang dilakukannya," kata Schumer dalam sebuah pernyataan. 




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×