Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Harga minyak melonjak sekitar 20% menembus level US$ 100 per barel pada perdagangan awal Senin (9/3/2026). Harga minyak mencapai level tertinggi sejak Juli 2022, seiring meluasnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Hal ini memicu kekhawatiran akan semakin ketatnya pasokan dan gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz.
Pada Senin (9/3/2026), Iran menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi, yang menandakan bahwa kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran seminggu setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Baca Juga: Iran Pilih Jalur Konfrontasi Dibanding Kompromi Melawan AS, Ini Buktinya
Seperti dilansir Reuters, Senin (9/3/2026), harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga US$ 18,35, atau 19,8% menjadi US$ 111,04 per barel dan naik US$ 14,38 atau 15,5% menjadi US$ 107,07 pada pukul 23:14 GMT.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik $ 15,27, atau 16,8%, menjadi US$ 106,17, setelah sebelumnya naik hingga US$ 20,34, atau 22,4%, menjadi US$ 111,24 pada awal sesi perdagangan.
Harga minyak Brent naik 27% dan WTI naik 35,6% pekan lalu, sebelum lonjakan terbaru ini.
Militer Israel mengatakan telah menyerang komandan Iran di ibu kota Lebanon pada Minggu pagi, memperluas cakupan kampanyenya ke jantung Beirut setelah serangan selama beberapa hari yang telah menewaskan hampir 400 orang.
Militer Israel mengancam akan membunuh siapa pun pengganti Khamenei, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan perang mungkin hanya akan berakhir setelah militer dan penguasa Iran dimusnahkan.
Perang tersebut dapat menyebabkan konsumen dan bisnis di seluruh dunia menghadapi kenaikan harga bahan bakar selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, bahkan jika konflik yang baru berlangsung seminggu ini berakhir dengan cepat, karena para pemasok bergulat dengan fasilitas yang rusak, logistik yang terganggu, dan peningkatan risiko pengiriman.
Arab Saudi, eksportir minyak terbesar, meningkatkan pengiriman dari Laut Merah, tetapi volumenya masih jauh dari cukup untuk mengimbangi penurunan dari Selat Hormuz yang dilanda krisis, menurut data pengiriman.
Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Pasokan Energi Global Kacau













