Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Kamis (12/2/2026) pagi, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Melansir Reuters, kontrak berjangka Brent naik 34 sen atau 0,49% menjadi US$69,74 per barel pada pukul 01.26 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 37 sen atau 0,57% ke level US$65,00 per barel.
Baca Juga: Analis Top Wall Street Ungkap Kejanggalan Emas dan Suku Bunga, Ini Peringatannya
Kedua acuan tersebut juga ditutup lebih tinggi pada Rabu (11/2/2026). Brent naik 0,87% dan WTI melonjak lebih dari 1,05%, karena kekhawatiran geopolitik menutupi sentimen negatif dari kenaikan persediaan minyak mentah AS.
Presiden AS Donald Trump mengatakan setelah bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa belum ada kesepakatan “final” terkait langkah terhadap Iran. Namun, ia menegaskan negosiasi dengan Teheran akan terus berlanjut.
Sehari sebelumnya, Trump menyatakan mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah jika kesepakatan dengan Iran tidak tercapai.
Pekan lalu, diplomat AS dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Oman, namun jadwal dan lokasi perundingan lanjutan belum diumumkan.
Baca Juga: Defisit Anggaran AS Terus Membengkak di Era Trump, Tembus 6,7% PDB pada 2036
Analis IG Tony Sycamore mengatakan penembusan berkelanjutan di atas kisaran US$65–66 per barel untuk WTI membutuhkan eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah.
Sebaliknya, jika terjadi de-eskalasi, harga berpotensi terkoreksi ke kisaran US$60–61 akibat aksi ambil untung.
Dari sisi fundamental, data menunjukkan ekonomi AS tetap solid. Pertumbuhan lapangan kerja Januari meningkat di luar dugaan, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%, menurut Departemen Tenaga Kerja AS.
“Ketahanan ekonomi AS turut mendukung ekspektasi permintaan minyak,” kata Mingyu Gao, Kepala Riset Energi dan Kimia China Futures.
Namun, kenaikan harga tertahan oleh lonjakan besar stok minyak mentah AS. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak naik 8,5 juta barel menjadi 428,8 juta barel pekan lalu, jauh melampaui ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan 793.000 barel.
Baca Juga: MSCI Tambah 33 Saham ke Indeks China A, Hapus 9 Emiten
Meski demikian, sejak awal tahun, kenaikan stok global relatif lebih rendah dari perkiraan dan posisi beli bersih (net long) di pasar berjangka minyak global belum berada di level jenuh beli.
Dengan kombinasi ketegangan AS-Iran, sanksi yang lebih ketat terhadap minyak Rusia, dan potensi penurunan ekspor, harga minyak dinilai masih memiliki kecenderungan menguat dalam jangka pendek.













