kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.840   38,00   0,23%
  • IDX 8.284   -6,79   -0,08%
  • KOMPAS100 1.171   -0,80   -0,07%
  • LQ45 840   -1,54   -0,18%
  • ISSI 296   0,09   0,03%
  • IDX30 437   0,84   0,19%
  • IDXHIDIV20 521   1,01   0,19%
  • IDX80 131   -0,07   -0,05%
  • IDXV30 143   0,75   0,53%
  • IDXQ30 141   0,00   0,00%

Analis Top Wall Street Ungkap Kejanggalan Emas dan Suku Bunga, Ini Peringatannya


Kamis, 12 Februari 2026 / 08:45 WIB
Analis Top Wall Street Ungkap Kejanggalan Emas dan Suku Bunga, Ini Peringatannya
ILUSTRASI. Hubungan emas dan suku bunga riil yang biasanya berlawanan kini putus. Ini sinyal investor cemas terhadap aset tradisional. (ANTARAFOTO/Adiwinata Solihin)


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Kepala ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, menemukan anomali menarik dalam data keuangan global. Selama bertahun-tahun, harga emas dan suku bunga riil biasanya bergerak berlawanan arah: ketika suku bunga naik, harga emas cenderung turun.

Namun kini, hubungan itu terlihat acak dan tidak lagi berpola, sebuah sinyal yang menurut Slok menunjukkan meningkatnya kecemasan investor terhadap kondisi ekonomi global.

Hubungan Emas–Suku Bunga “Rusak”

Mengutip Fortune, dalam unggahan blog terbarunya, Slok menyebut bahwa sejak The Fed mulai menaikkan suku bunga pada 2022, korelasi kuat antara emas dan suku bunga riil mulai menghilang.

“Yang membuat frustrasi komunitas analis kuantitatif, ketika The Fed mulai menaikkan suku bunga pada 2022, korelasi kuat antara emas dan suku bunga riil justru runtuh,” tulis Slok.

Emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven, semacam “pelampung” saat pasar bergejolak. Sejak kenaikan suku bunga pertama pada 2022, harga emas justru melonjak lebih dari 150%, dan bulan lalu menembus rekor sekitar US$ 5.000 per troy ounce.

Investor kawakan seperti pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, bahkan menganjurkan hingga 15% portofolio dialokasikan ke emas di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan membengkaknya utang AS.

Namun, menurut Slok, putusnya hubungan emas dengan indikator yang sebelumnya andal ini menandakan investor sedang bersiap menghadapi skenario terburuk.

Baca Juga: Defisit Anggaran AS Terus Membengkak di Era Trump, Tembus 6,7% PDB pada 2036

“Itu memberi sinyal bahwa investor cemas terhadap imbal hasil aset tradisional,” kata Slok kepada Fortune. “Itulah sebabnya mereka mulai melirik aset alternatif.”

Inflasi Ubah Aturan Main

Berdasarkan data Bloomberg dan Macrobond, sebelum 2022 harga emas dan suku bunga memang bergerak berlawanan. Tetapi setelah The Fed agresif menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi pasca-pandemi (yang sempat menyentuh sekitar 9%), pola itu tidak lagi berlaku.

Alih-alih turun, harga emas justru tetap kuat dan terus naik, bahkan saat suku bunga bertahan tinggi.

Menurut Slok, ini mencerminkan bahwa ketika inflasi bertahan di atas target The Fed 2%, investor memiliki pertimbangan tambahan dalam menilai aset, terutama emas.

“Intinya, risiko baru muncul ketika inflasi terus berada di atas target 2% The Fed, dan itulah kondisi yang masih kita hadapi saat ini,” tulis Slok.

Meski inflasi kini turun ke kisaran 2,7%, Slok menilai level ini tetap cukup tinggi untuk mengikis nilai portofolio dalam jangka panjang.

“Kelihatannya perbedaan 2% dan 3% kecil. Tapi dalam jangka panjang, itu sangat berarti. Jika inflasi 3% bertahan lama, nilai portofolio Anda akan tergerus 3% per tahun, bukan 2%,” jelasnya.

Baca Juga: MSCI Tambah 33 Saham ke Indeks China A, Hapus 9 Emiten




TERBARU

[X]
×