Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Analis Goldman Sachs menekankan bahwa emas adalah aset unik: sulit ditambang, pasokannya tumbuh sangat lambat, dan hampir seluruh emas yang pernah ditambang masih beredar. Inilah yang membuat emas menjadi penyimpan nilai (store of value).
Secara historis, emas kurang menarik saat suku bunga tinggi karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti bunga atau dividen. Namun, lonjakan inflasi pasca-pandemi mengubah dinamika tersebut.
Pada 2022, portofolio klasik 60/40 (60% saham, 40% obligasi) terpukul karena inflasi dan kenaikan suku bunga membuat obligasi tak lagi efektif sebagai penyeimbang risiko saham. Di saat yang sama, emas justru menguat sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Faktor Geopolitik Dorong Harga Emas
Ketegangan geopolitik juga menjadi pendorong utama reli harga emas. Perang Rusia-Ukraina, misalnya, meningkatkan permintaan emas sebagai aset riil sekaligus memicu sanksi yang membuat bank sentral global menambah cadangan emas sebagai aset yang relatif kebal sanksi.
Selain itu, kebijakan perdagangan dan ketidakpastian geopolitik di era Presiden Donald Trump juga mendorong bank sentral mengurangi ketergantungan pada dolar AS, meski masih menjadikannya komponen utama cadangan devisa.
Goldman Sachs mencatat bahwa persepsi risiko kebijakan makro global masih tinggi dan cenderung “lengket”, sehingga permintaan emas sebagai lindung nilai kemungkinan tetap kuat hingga 2026.
Tonton: Terungkap! Ini Tujuan Prabowo Bentuk Perminas untuk Industri Rare Earth Indonesia
Apa Artinya ke Depan?
Slok tidak yakin hubungan emas dan suku bunga akan kembali ke pola lama dalam waktu dekat. Ia menilai pasar mungkin sedang memasuki rezim inflasi yang lebih tinggi secara permanen, yang membuat investor merasa perlu perlindungan jangka panjang melalui aset riil seperti emas.
“Mungkin sekarang kita hidup dalam rezim inflasi yang lebih tinggi secara permanen. Dan karena itu, saya perlu perlindungan permanen dengan membeli aset riil, khususnya emas,” kata Slok, menggambarkan cara pikir investor.
Ia juga melihat meningkatnya minat pada private credit dan aset internasional sebagai konsekuensi alami, yang bisa memperkuat narasi “Sell America”.
Pertanyaan besarnya, menurut Slok, adalah apakah lonjakan inflasi sejak 2022 hanya anomali sementara, atau justru menandai rezim baru dalam ekonomi global.












