kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Analis Top Wall Street Ungkap Kejanggalan Emas dan Suku Bunga, Ini Peringatannya


Kamis, 12 Februari 2026 / 08:45 WIB
Analis Top Wall Street Ungkap Kejanggalan Emas dan Suku Bunga, Ini Peringatannya
ILUSTRASI. Hubungan emas dan suku bunga riil yang biasanya berlawanan kini putus. Ini sinyal investor cemas terhadap aset tradisional. (ANTARAFOTO/Adiwinata Solihin)


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Kepala ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, menemukan anomali menarik dalam data keuangan global. Selama bertahun-tahun, harga emas dan suku bunga riil biasanya bergerak berlawanan arah: ketika suku bunga naik, harga emas cenderung turun.

Namun kini, hubungan itu terlihat acak dan tidak lagi berpola, sebuah sinyal yang menurut Slok menunjukkan meningkatnya kecemasan investor terhadap kondisi ekonomi global.

Hubungan Emas–Suku Bunga “Rusak”

Mengutip Fortune, dalam unggahan blog terbarunya, Slok menyebut bahwa sejak The Fed mulai menaikkan suku bunga pada 2022, korelasi kuat antara emas dan suku bunga riil mulai menghilang.

“Yang membuat frustrasi komunitas analis kuantitatif, ketika The Fed mulai menaikkan suku bunga pada 2022, korelasi kuat antara emas dan suku bunga riil justru runtuh,” tulis Slok.

Emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven, semacam “pelampung” saat pasar bergejolak. Sejak kenaikan suku bunga pertama pada 2022, harga emas justru melonjak lebih dari 150%, dan bulan lalu menembus rekor sekitar US$ 5.000 per troy ounce.

Investor kawakan seperti pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, bahkan menganjurkan hingga 15% portofolio dialokasikan ke emas di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan membengkaknya utang AS.

Namun, menurut Slok, putusnya hubungan emas dengan indikator yang sebelumnya andal ini menandakan investor sedang bersiap menghadapi skenario terburuk.

Baca Juga: Defisit Anggaran AS Terus Membengkak di Era Trump, Tembus 6,7% PDB pada 2036

“Itu memberi sinyal bahwa investor cemas terhadap imbal hasil aset tradisional,” kata Slok kepada Fortune. “Itulah sebabnya mereka mulai melirik aset alternatif.”

Inflasi Ubah Aturan Main

Berdasarkan data Bloomberg dan Macrobond, sebelum 2022 harga emas dan suku bunga memang bergerak berlawanan. Tetapi setelah The Fed agresif menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi pasca-pandemi (yang sempat menyentuh sekitar 9%), pola itu tidak lagi berlaku.

Alih-alih turun, harga emas justru tetap kuat dan terus naik, bahkan saat suku bunga bertahan tinggi.

Menurut Slok, ini mencerminkan bahwa ketika inflasi bertahan di atas target The Fed 2%, investor memiliki pertimbangan tambahan dalam menilai aset, terutama emas.

“Intinya, risiko baru muncul ketika inflasi terus berada di atas target 2% The Fed, dan itulah kondisi yang masih kita hadapi saat ini,” tulis Slok.

Meski inflasi kini turun ke kisaran 2,7%, Slok menilai level ini tetap cukup tinggi untuk mengikis nilai portofolio dalam jangka panjang.

“Kelihatannya perbedaan 2% dan 3% kecil. Tapi dalam jangka panjang, itu sangat berarti. Jika inflasi 3% bertahan lama, nilai portofolio Anda akan tergerus 3% per tahun, bukan 2%,” jelasnya.

Baca Juga: MSCI Tambah 33 Saham ke Indeks China A, Hapus 9 Emiten

Mengapa Emas Jadi Semakin Menarik?

Analis Goldman Sachs menekankan bahwa emas adalah aset unik: sulit ditambang, pasokannya tumbuh sangat lambat, dan hampir seluruh emas yang pernah ditambang masih beredar. Inilah yang membuat emas menjadi penyimpan nilai (store of value).

Secara historis, emas kurang menarik saat suku bunga tinggi karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti bunga atau dividen. Namun, lonjakan inflasi pasca-pandemi mengubah dinamika tersebut.

Pada 2022, portofolio klasik 60/40 (60% saham, 40% obligasi) terpukul karena inflasi dan kenaikan suku bunga membuat obligasi tak lagi efektif sebagai penyeimbang risiko saham. Di saat yang sama, emas justru menguat sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Faktor Geopolitik Dorong Harga Emas

Ketegangan geopolitik juga menjadi pendorong utama reli harga emas. Perang Rusia-Ukraina, misalnya, meningkatkan permintaan emas sebagai aset riil sekaligus memicu sanksi yang membuat bank sentral global menambah cadangan emas sebagai aset yang relatif kebal sanksi.

Selain itu, kebijakan perdagangan dan ketidakpastian geopolitik di era Presiden Donald Trump juga mendorong bank sentral mengurangi ketergantungan pada dolar AS, meski masih menjadikannya komponen utama cadangan devisa.

Goldman Sachs mencatat bahwa persepsi risiko kebijakan makro global masih tinggi dan cenderung “lengket”, sehingga permintaan emas sebagai lindung nilai kemungkinan tetap kuat hingga 2026.

Tonton: Terungkap! Ini Tujuan Prabowo Bentuk Perminas untuk Industri Rare Earth Indonesia

Apa Artinya ke Depan?

Slok tidak yakin hubungan emas dan suku bunga akan kembali ke pola lama dalam waktu dekat. Ia menilai pasar mungkin sedang memasuki rezim inflasi yang lebih tinggi secara permanen, yang membuat investor merasa perlu perlindungan jangka panjang melalui aset riil seperti emas.

“Mungkin sekarang kita hidup dalam rezim inflasi yang lebih tinggi secara permanen. Dan karena itu, saya perlu perlindungan permanen dengan membeli aset riil, khususnya emas,” kata Slok, menggambarkan cara pikir investor.

Ia juga melihat meningkatnya minat pada private credit dan aset internasional sebagai konsekuensi alami, yang bisa memperkuat narasi “Sell America”.

Pertanyaan besarnya, menurut Slok, adalah apakah lonjakan inflasi sejak 2022 hanya anomali sementara, atau justru menandai rezim baru dalam ekonomi global.

Selanjutnya: RKAB Batubara dan Nikel Dipangkas, Asosiasi Minta Pemerintah Tinjauan Ulang

Menarik Dibaca: Orang Tua Wajib Tahu: Inilah Rangkaian Jadwal Libur Sekolah Awal Puasa 2026




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×