kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.909   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.926   -10,17   -0,17%
  • KOMPAS100 765   -0,18   -0,02%
  • LQ45 589   -1,71   -0,29%
  • ISSI 206   -0,73   -0,35%
  • IDX30 328   -1,45   -0,44%
  • IDXHIDIV20 422   -0,98   -0,23%
  • IDX80 87   -0,08   -0,10%
  • IDXV30 116   -0,04   -0,04%
  • IDXQ30 108   -0,46   -0,42%

Dolar AS Melemah dari Level Tertinggi 18 Bulan, Pasar Cermati Arah The Fed


Selasa, 13 Oktober 2026 / 15:36 WIB
Dolar AS Melemah dari Level Tertinggi 18 Bulan, Pasar Cermati Arah The Fed
ILUSTRASI. Dolar AS (AFP/HUSSEIN FALEH)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) melemah dari level tertinggi dalam 18 bulan pada perdagangan Selasa (13/10/2026).

Pergerakan ini sejalan dengan penurunan harga minyak dunia, sementara investor mengalihkan perhatian ke arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan menilai risiko eskalasi konflik geopolitik menjelang pemilihan paruh waktu AS masih terbatas.

Baca Juga: Kospi Anjlok 5,5% Selasa (13/10), Kekhawatiran Chip AI China Guncang Bursa Asia

Pandangan yang berkembang di pasar memperkirakan Presiden AS Donald Trump akan berupaya menghindari eskalasi konflik di Timur Tengah maupun perang Rusia-Ukraina yang berpotensi mengganggu prospek politik Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu.

Pekan lalu, Trump mengatakan AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan tersebut. Pada Minggu (11/10/2026), ia juga menyampaikan adanya gencatan senjata di sektor energi antara Rusia dan Ukraina.

Di pasar komoditas, harga minyak turun pada Selasa dan berada di jalur penurunan pertama dalam hampir sepekan. Pelaku pasar mempertimbangkan kemungkinan tambahan pasokan diesel dari Rusia.

Penurunan harga minyak turut mengurangi dukungan terhadap dolar AS. Kenaikan harga minyak biasanya menguntungkan dolar karena dapat menekan mata uang negara pengimpor energi, seperti euro dan yen, melalui dampaknya terhadap biaya impor dan inflasi.

Melansir Reuters, Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,25% menjadi 102,29.

Pada perdagangan Senin (12/10/2026), indeks tersebut sempat menyentuh 102,61, level tertinggi sejak April 2025.

Baca Juga: Rusia Klaim Serang Kapal Pengangkut Barang Militer ke Ukraina

Investor kini menantikan data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk September yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (14/10/2026). Data inflasi tersebut akan menjadi salah satu petunjuk untuk menilai arah kebijakan suku bunga The Fed.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada bulan ini mencapai 80%, meningkat dari 51% sebulan sebelumnya.

Namun, pasar masih memperhitungkan pengetatan kebijakan sebesar total 75 basis poin hingga akhir 2027.

Daragh Maher, ahli strategi valuta asing senior di HSBC, mengatakan kejutan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memicu reaksi pasar.

Meski demikian, satu rilis data belum tentu cukup untuk mengubah ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga.

"The Fed berulang kali menegaskan bahwa kebijakan ditentukan berdasarkan keseluruhan bukti, bukan hanya satu titik data," ujar Maher.

Baca Juga: Kim Jong Un Pamerkan Rudal Hwasong-20, Mampu Jangkau Amerika Serikat

Menurut dia, kenaikan inflasi yang sedikit lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat keyakinan pasar terhadap kenaikan suku bunga pada Desember yang telah diperhitungkan sebelumnya.

Namun, kondisi tersebut belum tentu mengubah ekspektasi untuk Oktober maupun arah dolar AS secara signifikan.

Sebelumnya, investor mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada akhir bulan ini setelah dua pejabat bank sentral AS menyatakan perlunya mengumpulkan lebih banyak bukti sebelum memutuskan apakah pengetatan tambahan diperlukan.

Euro Menguat, Harga Gas Eropa Melonjak

Di pasar valuta asing lainnya, euro menguat meski harga gas alam Eropa kembali melonjak dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis masih membayangi.

Euro naik 0,34% menjadi US$ 1,1193, setelah sempat melemah ke US$ 1,11525 pada Senin. Posisi tersebut merupakan level terendah euro sejak Mei 2025.

Baca Juga: Produsen Mobil Eropa Hidupkan Model Legendaris untuk Lawan Mobil Listrik China

Thierry Wizman, ahli strategi valuta asing dan suku bunga global di Macquarie Group, menilai peluang munculnya kabar positif dari kawasan euro masih terbatas.

Menurut dia, perkembangan negatif terkait kondisi fiskal Prancis dan dampak guncangan energi dapat mendorong Bank Sentral Eropa (ECB) memperlambat laju kenaikan suku bunga atau bahkan menghentikannya.

Perlambatan pengetatan kebijakan ECB berpotensi kembali menekan nilai tukar euro terhadap dolar AS, kata Wizman.

Pada saat yang sama, harga gas alam Eropa naik ke 86,30 euro, level tertinggi sejak Desember 2022. Lonjakan harga energi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi menambah tekanan inflasi di kawasan euro.

Sementara itu, yen Jepang menguat 0,28% menjadi 158,16 per dolar AS. Data Bank of Japan menunjukkan harga-harga di tingkat grosir Jepang naik 6,8% secara tahunan pada September, lebih rendah dari perkiraan median pasar sebesar 7,6%.

Meski demikian, kenaikan tersebut masih menjadi perhatian pelaku pasar terkait potensi kenaikan suku bunga.

Yuan China di pasar offshore bergerak stabil di level 6,6943 per dolar AS, mendekati posisi terkuatnya dalam empat tahun terakhir.

Baca Juga: Perang Rusia-Ukraina Ubah Strategi NATO, Teknologi Penangkal Drone Jadi Prioritas

Adapun dolar Australia berada di US$ 0,6968, relatif tidak berubah setelah risalah rapat dewan Reserve Bank of Australia (RBA) pada September dirilis.

Dalam rapat tersebut, seluruh anggota sepakat menaikkan suku bunga untuk keempat kalinya sepanjang tahun ini.

RBA menyatakan, risiko inflasi yang lebih persisten dari perkiraan masih perlu diwaspadai. Pernyataan tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga kelima pada tahun ini jika diperlukan.




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×