kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45862,44   -0,26   -0.03%
  • EMAS918.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.15%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Edward Jenner, penemu vaksin pertama di dunia


Jumat, 28 Agustus 2020 / 14:47 WIB
Edward Jenner, penemu vaksin pertama di dunia
ILUSTRASI. Penemu vaksin Edward Jenner.

Penulis: Virdita Ratriani

KONTAN.CO.ID - Saat ini, perusahaan obat di dunia sedang berlomba menemukan vaksin virus corona baru. Beberapa vaksin potensial pun berhasil ditemukan. Penemu vaksin pertama adalah Edward Jenner. 

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, vaksin adalah suatu zat yang merupakan suatu bentuk produk biologi yang diketahui berasal dari virus, bakteri, atau dari kombinasi antara keduanya yang dilemahkan. 

Vaksin diberikan kepada individu yang sehat guna merangsang munculnya antibodi atau kekebalan tubuh. Tujuannya, guna mencegah dari infeksi penyakit tertentu.

Lantas, bagaimana sejarah vaksin dan siapa penemunya?

Baca Juga: Indonesia Siapkan Rp 3,8 Triliun untuk Uang Muka Pembelian Vaksin Covid-19 Tahun ini

Kisah penemu vaksin

Edward Jenner adalah penemu vaksin pertama di dunia. Pada awalnya, Edward Jenner merupakan penemu vaksin cacar yang kemudian menjadi landasan pembuatan vaksin-vaksin lainnya. 

Dilansir dari BBC, Edward Jenner adalah dokter asal Inggris. Pelopor vaksinasi cacar dan bapak imunologi ini lahir di Berkeley, Gloucestershire, pada 17 Mei 1749, anak dari pendeta setempat.

Pada usia 14 tahun, dia magang ke seorang ahli bedah lokal dan kemudian dilatih di London. Pada 1772, ia kembali ke Berkeley dan menghabiskan sebagian besar sisa kariernya sebagai dokter di kota asalnya.

Edward Jenner pada akhirnya menjadi salah satu ilmuwan paling terkenal dalam sejarah medis dan dijuluki sebagai Bapak Imunologi. 

Baca Juga: Menteri Erick prediksi harga vaksin Covid-19 Rp 440.000 per orang

Sejarah vaksin

Mengutip History of Vaccine, di awal masa Edward Jenner hidup pada 1750-an, cacar membunuh sekitar 10% populasi Inggris. Di kota-kota, infeksinya malah cepat menyebar dengan menular ke sekitar 20% penduduk.

Jumlah korban yang berjatuhan akibat penyakkit cacar mencapai jutaan orang selama berabad-abad.

Pada awalnya, Edward Jenner mengamati, para pemerah susu yang berkontak dengan cacar sapi tidak tertular cacar manusia. Cacar sapi hanya menimbulkan sedikit gejala pada wanita-wanita pemerah susu sapi. 

Baca Juga: Suntik vaksin Covid-19 massal di Indonesia gratis, tapi tidak berlaku bagi yang mampu




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Virtual Selling: How to win sales remotely Optimasi alur Pembelian hingga pembayaran

[X]
×