kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.345.000 -0,88%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Eksodus Tenaga Kerja Mengancam Tesla


Sabtu, 04 Juni 2022 / 06:14 WIB
Eksodus Tenaga Kerja Mengancam Tesla


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - SAN FRANCISCO. Eksodus tenaga kerja tengah mengancam produsen mobil listrik Tesla Inc. Sang pemilik Tesla Elon Musk kabarnya akan memangkas satu dari sepuluh pekerjaan di Tesla.

Rencana Elon Musk itu disampaikan dalam email internal yang dilihat oleh Reuters, berakar pada apa yang dia gambarkan sebagai "perasaan yang sangat buruk" tentang ekonomi Amerika Serikat (AS).

Beberapa dari hampir 100.000 orang yang bekerja di Tesla mungkin sudah mempertimbangkan pilihan mereka setelah Musk mengeluarkan ultimatum kembali ke kantor pada minggu ini.

Dalam email yang dikirim ke staf, Selasa malam, Musk mengancam akan memecat siapa pun yang tidak bekerja di kantor 40 jam seminggu. Ini sangat kontras dengan fleksibilitas yang ditawarkan perusahaan big tech yang bersaing untuk kumpulan talent yang sama.

"Tesla memulai pengunduran diri besar lokalnya sendiri," kata profesor ekonomi Universitas Stanford Nicholas Bloom seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Elon Musk: Tesla Perlu Memangkas 10% Karyawan dan Menghentikan Perekrutan Baru

Ia memperkirakan 60% karyawan Tesla akan kembali ke kantor penuh waktu, sekitar 10% akan berhenti, dan sekitar 30% akan mencari pekerjaan lain.

Tesla tidak segera membalas permintaan komentar soal ini.

Beberapa perusahaan teknologi, yang merasakan adanya celah, dengan cepat bergerak.

Scott Farquhar, orang terkaya ketiga di Australia dan salah satu pendiri pembuat perangkat lunak Atlassian, mentweet tentang rencana untuk memperluas pekerjaan dan menawarkan fleksibilitas. "Apakah ada karyawan Tesla yang tertarik?" dia menambahkan.

Di tengah pandemi Covid-19, semakin banyak pekerja teknologi, yang terbiasa bekerja dari rumah atau kebijakan hybrid, menolak untuk kembali ke kantor secara penuh.

Seorang mantan insinyur Tesla mengatakan kepada Reuters bahwa dia baru-baru ini mengambil pekerjaan di Alphabet karena kurangnya keseimbangan kehidupan kerja, termasuk tekanan untuk datang ke kantor selama pandemi.

Di Google, dia harus datang ke kantor hanya tiga kali seminggu, dengan beberapa anggota timnya bekerja dari jarak jauh. Dia mengatakan teman-temannya yang bekerja dari rumah "tidak kurang produktif, tetapi secara signifikan lebih bahagia."

Mantan insinyur Tesla lainnya mengatakan dia berada di bawah tekanan untuk bekerja di kantor selama pandemi pada tahun 2020 dan terkena Covid dua kali, sebelum akhirnya pindah ke Apple.

Ancaman PHK dan perintah kembali ke kantor datang ketika para insinyur Tesla menyaksikan penurunan kompensasi berbasis saham mereka. Tesla menghadapi beberapa masalah yang sama yang juga menyerang perusahaan lain, seperti penguncian di China.

Tetapi investor juga khawatir bahwa ambisi mengakuisisi Twitter senilai US$ 44 miliar oleh Musk mengalihkan perhatiannya, meskipun Musk berpendapat ia menghabiskan waktu yang relatif sedikit untuk itu.

Saham Tesla anjlok 9% pada Jumat (3/6), setelah Reuters menerbitkan rencana pemotongan stafnya dan Twitter menyatakan akuisisi Musk telah melewati tinjauan lembaga antimonopoli AS.

Saham Tesla telah rontok sekitar 30% sejak Musk mengumumkan pembelian sahamnya pada awal April, kira-kira dua kali lipat dari penurunan indeks Nasdaq.

Opsi saham adalah bagian yang lebih besar dari kompensasi eksekutif di Tesla. Ketika harga saham Tesla tidak naik, bagian dari kompensasi itu bisa menjadi tidak berharga.

Karyawan Tesla mendapatkan bonus tahunan dalam bentuk saham, dan umumnya menerima gaji tunai yang lebih rendah daripada pekerja di perusahaan teknologi besar lain, menurut data yang diperoleh Reuters.

Baca Juga: Amanat Elon Musk Untuk Karyawan Tesla: Kembali ke Kantor atau Keluar dari Perusahaan




TERBARU

[X]
×