Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. GasCo, perusahaan pembeli gas milik negara Singapura, telah memulai proses pengadaan pertamanya untuk mengamankan pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dalam jangka panjang. Hal tersebut disampaikan Gan Siow Huang, Menteri Negara untuk Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura.
Negara kota tersebut, yang mengandalkan gas alam untuk menghasilkan sekitar 95% listriknya, juga sedang mengkaji kelayakan pembangunan terminal impor LNG ketiga di Pulau Tekong, yang terletak di bagian timur laut Singapura. Gan menyampaikan hal tersebut dalam konferensi Asia Gas Markets pada Selasa.
Langkah ini dilakukan saat Singapura bersiap memperluas kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar gas. Pemerintah Singapura pada Senin mengatakan akan menambah lima pembangkit listrik berbahan bakar gas baru untuk meningkatkan kapasitas pembangkitan listrik sekitar 26% pada awal dekade berikutnya, dari sekitar 12 gigawatt saat ini.
Baca Juga: Harga Komoditas Naik, Margin Laba Unilever India Tertekan
Gan tidak memberikan perincian tambahan mengenai proses pengadaan GasCo maupun kapasitas terminal impor ketiga yang berpotensi dibangun. Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura, Tan See Leng, pada Senin mengatakan di konferensi Singapore International Energy Week bahwa perusahaan tersebut berada di jalur yang tepat untuk memberikan kontrak pertamanya pada 2027.
GasCo didirikan pada 2025 untuk memusatkan pengadaan dan pasokan gas Singapura. Sebelumnya, perusahaan tersebut mengatakan akan mencari pasokan LNG jangka panjang pada kuartal pertama tahun ini untuk pengiriman mulai 2028 dan seterusnya, alih-alih mengandalkan pembelian LNG di pasar spot yang dilakukan satu kali.
“Akan ada kontrak jangka panjang sebagai landasan bagi apa yang harus kami lakukan. Kemudian, fleksibilitas harus dibayar... Kami akan mengandalkan pembelian spot untuk membangun fleksibilitas tersebut,” kata CEO GasCo Alan Heng dalam sesi diskusi panel di konferensi Asia Gas Markets.
Ia menambahkan bahwa GasCo akan mengupayakan fleksibilitas volume tertentu dan izin pengalihan kargo dalam kontrak-kontraknya.
Kebutuhan LNG Regional
Singapura diperkirakan menghadapi kesenjangan pasokan gas sekitar 3 juta metrik ton pada 2028 dan 2029. Kesenjangan tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 6 juta ton pada 2035.
Heng mengatakan bahwa meskipun prioritas GasCo adalah memastikan pasokan untuk Singapura, kerja sama LNG dengan negara-negara tetangga di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) juga masuk akal, karena seluruh negara di kawasan tersebut pada akhirnya akan menjadi pengimpor LNG.
“Jadi, apakah ada peluang bagi kami untuk bekerja sama ... sehingga sebagai kawasan ASEAN, kami bisa saling menjaga kepentingan masing-masing? Kemudian, karena ka i semua tidak berukuran besar secara signifikan, setidaknya kami bisa bersatu dan menemukan peluang untuk membatasi biaya,” katanya.
Baca Juga: Singapura Buka Tender Impor LNG Jangka Panjang, Kaji Pembangunan Terminal Ketiga
“Saya menyarankan agar Asia Tenggara sebagai tujuan pengiriman seharusnya menjadi standar, bukan tujuan yang ditentukan berdasarkan negara.”
Singapura mengimpor LNG serta gas yang disalurkan melalui pipa dari negara tetangganya, Malaysia dan Indonesia. Pada Sabtu, regulator hulu minyak dan gas Indonesia mengatakan telah memangkas ekspor gas melalui pipa ke Singapura sebesar 31 juta kaki kubik standar per hari untuk mengalihkan pasokan ke sektor kelistrikan dalam negeri.
Awal tahun ini, Singapura memulai pembangunan terminal impor LNG keduanya dengan kapasitas regasifikasi sebesar 5 juta ton per tahun (mtpa). Proyek tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada 2030 dan akan meningkatkan total kapasitas regasifikasi Singapura menjadi 15 juta ton per tahun.
Secara terpisah, Singapura menunjuk Keppel Energy, Sembcorp Utilities, dan Tuas Power untuk menguji kelayakan komersial impor dan penggunaan biometana bagi pembangkitan listrik serta dekarbonisasi industri, kata Gan.














