Ekspor Jepang turun bulan Februari, terseret permintaan AS dan China yang melambat

Rabu, 17 Maret 2021 | 08:13 WIB   Reporter: Anna Suci Perwitasari
Ekspor Jepang turun bulan Februari, terseret permintaan AS dan China yang melambat

ILUSTRASI. Ekspor Jepang turun di bulan Februari


KONTAN.CO.ID - TOKYO. Ekspor Jepang turun pada bulan Februari, setelah selalu tumbuh dalam tiga bulan terakhir. Penurunan terjadi dengan pengiriman ke Amerika Serikat (AS) dan China melemah, dan menjadi kekhawatiran baru bagi pemulihan pertumbuhan ekonomi Jepang. 

Rabu (17/3), Kementerian Keuangan Jepang merilis, ekspor Jepang turun 4,5% secara tahunan di bulan Februari lalu, dipengaruhi penurunan pengiriman mobil di AS. 

Ini jadi penurunan pertama dalam tiga bulan, setelah naik 6,4% di bulan Januari lalu. Penurunan ekspor bulan Februari lalu juga lebih dalam daripada hasil jajak pendapat Reuters, dengan rata-rata penurunan 0,8%. 

Seperti diketahui, kali ini ekonomi Jepang bergantung pada ekspor. Prospek pemulihan AS sebenarnya dapat meredakan kekhawatiran tentang prospek ekonomi Jepang. Terlebih ekonomi Negeri Matahari Terbit tersebut terlihat menyusut pada kuartal pertama tahun ini karena pengekangan baru yang telah memukul aktivitas sektor jasa.

Berdasarkan wilayah, ekspor ke China naik 3,4% secara yoy pada bulan Februari, dipimpin oleh peralatan pembuat chip, logam nonferrous dan plastik. Walau masih tercatat naik, namun ekspor ke China melambat tajam dari kenaikan 37,5% di bulan sebelumnya.

Baca Juga: Amerika dominasi penjualan senjata global, Arab Saudi sebagai pelanggan utama

Sementara itu, pengiriman ke AS, pasar ekspor utama lainnya untuk barang Jepang, turun 14,0% yoy di bulan Februari, terseret oleh mobil, suku cadang pesawat dan motor. Pada bulan sebelumnya, ekspor ke Negeri Paman Sam juga sudah turun 4,8% dan mencatat penurunan selama empat bulan berturut-turut.

Ekspor ke Asia, yang menyumbang lebih dari setengah ekspor Jepang secara keseluruhan, turun 0,8% yoy. Sedangkan ekspor ke Uni Eropa turun 3,3%. 

Data perdagangan hari Rabu mengikuti jajak pendapat Reuters terkait manufaktur Jepang, dengan pabrikan di Jepang yang optimis terhadap pertumbuhan secara bertahap meskipun kekhawatiran tentang dampak Covid-19 tetap ada.

Di sisi lain, impor Jepang naik 11,8% yoy hingga Februari, kira-kira sama seperti hasil jajak pendapat Reuters, setelah penurunan 9,5% di bulan sebelumnya.

Impor menandai kenaikan tahunan pertama dalam 22 bulan karena kenaikan dalam permintaan domestik, restocking inventaris dan naik harga minyak mentah dan sumber daya.

Neraca perdagangan Jepang pun mengalami surplus 217,4 miliar yen setara US$ 2 miliar. 

 

Selanjutnya: Ekonomi China melonjak di tengah pertumbuhan ekonomi yang belum merata

 

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru