Reporter: Asnil Bambani Amri, NHK | Editor: Asnil Amri
TOKYO. Jepang mencatat defisit perdagangan di bulan Juli, ini merupakan defisit perdagangan pertama dalam dua bulan terakhir perdagangan Jepang. Defisit perdagangan terjadi karena kinerja ekspor Jepang terimbas kondisi ekonomi Eropa yang tak menentu.
Kondisi perdagangan Jepang ini disampaikan salah satu pejabat Departemen Keuangan Jepang hari Rabu kemarin (23/8). Nilai defisit perdagangan Jepang tersebut mendekati angka US$ 6,5 miliar.
Ekspor Jepang terjungkal 8,1% menjadi US$ 67 miliar, kondisi ini memperparah penurunan kinerja ekspor Jepang dalam dua bulan terakhir.
Ekspor Jepang ke Uni Eropa anjlok seiring dengan turunnya permintaan produk Jepang. Tak hanya itu, ekspor Jepang juga turun ke China akibat perlambatan ekonomi di di negara Tirai Bambu tersebut.
Di sisi lain, impor Jepang naik untuk pertama kalinya dalam 2 bulan terakhir atau naik 2,1% menjadi US$ 74 miliar. Kenaikan impor disebabkan oleh kenaikan permintaan gas alam cair untuk pembangkit listrik.
Para pejabat kementerian Jepang mengatakan, mereka akan memantau dampak dari masalah utang Eropa terhadap perekonomian China, yang dianggap sebagai kunci kesuksesan Jepang mengembalikan surplus perdagangannya.













