Reporter: Sanny Cicilia | Editor: Sanny Cicilia
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Dunia tengah memasuki fase perubahan besar. Persaingan negara-negara besar, konflik geopolitik, dan kompetisi teknologi kini tidak hanya membentuk hubungan antarnegara, tetapi juga berdampak langsung terhadap ekonomi global, dunia usaha hingga kehidupan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Chairman Business China Lee Yi Shyan dalam pembukaan FutureChina Global Forum (FCGF) 2026 hari kedua di Singapura, Kamis (25/9).
Menurut Lee, setidaknya ada tiga kekuatan yang tengah membentuk lanskap global, yakni persaingan negara-negara besar, konflik geopolitik, serta persaingan teknologi.
Persaingan antara China dan Amerika Serikat (AS), misalnya, kini telah meluas dari perdagangan ke teknologi, investasi, keuangan, energi hingga mineral kritis. Tarif, pembatasan ekspor, penyaringan investasi dan subsidi industri semakin dipengaruhi pertimbangan strategis.
Perubahan tersebut turut mengubah cara perusahaan menentukan lokasi produksi. Jika sebelumnya perusahaan terutama mencari lokasi dengan biaya paling efisien, kini faktor keamanan dan keandalan rantai pasok ikut menjadi pertimbangan. Ekonomi global, menurut Lee, bergerak dari fokus tunggal pada efisiensi menuju keseimbangan antara keamanan dan ketahanan.
Di sisi lain, konflik geopolitik juga membawa dampak ekonomi yang semakin nyata. Gangguan terhadap pasokan energi dan jalur pelayaran utama dapat meningkatkan biaya energi, pengiriman dan asuransi. Pada akhirnya, tekanan tersebut dapat tercermin dalam kenaikan biaya listrik, harga pangan, tarif penerbangan hingga biaya operasional perusahaan.
Sementara itu, persaingan teknologi semakin strategis. Kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor kini menjadi arena kompetisi yang berkaitan dengan produktivitas, keamanan nasional dan daya saing internasional.
Kompetisi tidak hanya terjadi dalam penguasaan chip dan computing power, tetapi juga pusat data, energi serta mineral kritis yang dibutuhkan untuk menopang teknologi tersebut.
Lee menilai ketiga kekuatan tersebut saling berkaitan. Rivalitas negara besar mendorong reorganisasi rantai pasok, konflik geopolitik meningkatkan ketidakpastian energi dan sumber daya, sementara persaingan teknologi mendorong negara memperkuat keamanan industri dan kemandirian.
Menurut dia, globalisasi tidak menghilang, tetapi berubah bentuk. Fokus pada produksi berbiaya paling rendah dan sistem just-in-time mulai bergeser menuju kerja sama dengan mitra yang dipercaya, ketahanan rantai pasok dan strategic autonomy.
Di tengah perubahan tersebut, Asia dinilai berada di pusat transformasi. ASEAN berupaya mempertahankan sentralitasnya dengan memperdalam kerja sama perdagangan dan ekonomi dengan berbagai mitra.
"Secara geopolitik, Asia tetaplah stabil. Tetapi, konflik militer di Timur Tengah membawa konsekuensi militer atau miskalkulasi politik. Inilah alasan, dialog, kunjungan, dan kerjasama selama masa yang tenang sangat diperlukan," ujar Lee.
Sementara China memiliki basis industri yang luas dan pasar domestik yang besar, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan memiliki posisi kuat dalam manufaktur maju dan semikonduktor. Asia Tenggara sendiri menawarkan tenaga kerja yang muda, kebutuhan infrastruktur serta peluang investasi.
Lee menilai Singapura, China dan negara-negara Asia lainnya bukan hanya menjadi pihak yang terdampak perubahan global, tetapi juga dapat ikut membentuk industri masa depan. Bagi Singapura, posisi tersebut antara lain diwujudkan dengan terus beradaptasi dan berperan sebagai penghubung yang dipercaya dalam kerja sama regional.
Tema FCGF 2026, “Strengthening Resilience, Rebuilding Trust”, pun menjadi relevan dengan kondisi tersebut. Lee mengatakan dunia perlu membangun konsensus, meningkatkan ketahanan, serta memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan pulih ketika menghadapi berbagai guncangan.














