kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Bos Besar Perusahaan AS Pulang dari China Tanpa Banyak Kesepakatan Bisnis Baru


Jumat, 15 Mei 2026 / 17:12 WIB
Bos Besar Perusahaan AS Pulang dari China Tanpa Banyak Kesepakatan Bisnis Baru
ILUSTRASI. CHINA-US-DIPLOMACY (AFP/BRENDAN SMIALOWSKI). Kunjungan para bos besar perusahaan AS ke China bersama Presiden Trump menghasilkan sedikit kesepakatan bisnis konkret, lebih fokus pada pembangunan kembali hubungan dan komunikasi di tengah rivalitas AS-China.


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - BEIJING/SHANGHAI. Kunjungan para bos besar perusahaan Amerika Serikat (AS) ke China bersama Presiden AS Donald Trump belum menghasilkan banyak kesepakatan konkret. 

Meski disambut meriah di Beijing, hasil yang dibawa pulang para CEO sejauh ini dinilai lebih banyak sebatas membangun kembali hubungan bisnis dan menjaga komunikasi di tengah memanasnya rivalitas AS-China.

Sejumlah petinggi perusahaan global seperti Tesla, Nvidia, Apple, Meta, Boeing, Cargill hingga Goldman Sachs ikut dalam lawatan tersebut. 

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pasar China masih sangat penting bagi korporasi AS, meski hubungan kedua negara terus dibayangi konflik dagang, pembatasan teknologi, hingga ketegangan geopolitik.

Baca Juga: Trump Boyong Bos-Bos Perusahaan Raksasa AS ke China, Siapa Saja?

Namun berbeda dengan kunjungan Trump ke Beijing pada 2017 yang menghasilkan komitmen investasi dan nota kesepahaman senilai US$ 250 miliar, agenda kali ini dinilai lebih fokus membangun goodwill politik ketimbang transaksi besar.

Pendiri Hutong Research, Feng Chucheng, mengatakan Beijing memang tidak melihat pertemuan tingkat tinggi semata dari nilai bisnis yang dihasilkan. Menurut dia, prioritas utama China adalah menjaga hubungan bilateral agar tidak semakin memburuk.

"Tujuan utamanya mencari titik aman hubungan kedua negara dan mencegah eskalasi yang tidak terkendali," ujarnya.

Meski demikian, para pelaku usaha tetap berharap pertemuan langsung dengan pejabat China dapat membuka jalan bagi kepastian regulasi, akses pasar, dan peluang investasi baru di ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.

Salah satu hasil yang mulai terlihat adalah rencana pembelian 200 pesawat Boeing oleh China. Namun angka itu masih di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan pembelian bisa mencapai 500 unit. 

Baca Juga: Warning Bos Nvidia: AS Butuh 3 Tahun untuk Data Center, China Bangun RS dalam 1 Hari

Jumlah tersebut juga lebih kecil dibanding pembelian 300 pesawat saat kunjungan Trump pada 2017.

Di sektor teknologi, hasil yang diharapkan juga belum tercapai. Hingga kini belum ada terobosan terkait izin China atas penjualan chip AI H200 milik Nvidia ke perusahaan-perusahaan China.

CEO Nvidia, Jensen Huang, yang sempat diharapkan membawa kemajuan dalam negosiasi chip AI hanya memberikan komentar singkat. "Saya mencintai China dan menikmati kunjungan ini," katanya.

Huang sebelumnya tidak masuk dalam daftar resmi delegasi Gedung Putih, namun kemudian bergabung dalam perjalanan menuju Beijing. 

Kehadirannya sempat memunculkan harapan adanya kemajuan dalam penjualan chip AI Nvidia ke pasar China yang selama ini tertahan persoalan regulasi dan pembatasan ekspor AS.

Baca Juga: Ekonomi Dunia: Rahasia di Balik Pembelian Surat Utang AS oleh China

Analis menilai pertemuan kali ini memang lebih banyak menghasilkan suasana positif dibanding kesepakatan nyata. 

China disebut berhati-hati dalam memberikan "hadiah politik" kepada Trump, sementara Washington juga tetap menjaga tekanan terhadap Beijing di sektor teknologi strategis.

Direktur China The Asia Group, Han Shen Lin, menilai minimnya hasil konkret berpotensi memengaruhi dinamika hubungan kedua negara ke depan.

"Jika Trump tidak mendapat cukup kemenangan untuk dibawa pulang, ada risiko pendekatan yang lebih keras terhadap China kembali menguat," ujarnya.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×