Sumber: Investopedia | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - China selama puluhan tahun terus mengumpulkan obligasi pemerintah AS (US Treasury). Per November 2025, China tercatat memegang sekitar US$ 682,6 miliar Treasury.
Sebagian analis khawatir China bisa “menjual besar-besaran” (dumping) obligasi ini sebagai senjata ekonomi, yang berpotensi mendorong suku bunga AS naik dan menekan pertumbuhan ekonomi AS. Namun, faktanya, kepemilikan China atas Treasury justru menurun sejak 2018.
Lalu, kenapa China membeli begitu banyak utang AS?
Model Ekonomi China: Mesin Ekspor
Mengutip Investopedia, China adalah negara dengan ekonomi berbasis manufaktur dan ekspor. Sejak 1985, China secara konsisten mencatat surplus perdagangan besar dengan AS. Artinya, China menjual jauh lebih banyak barang ke AS dibandingkan yang dibeli dari AS.
Akibatnya:
- Eksportir China menerima pembayaran dalam dolar AS (USD)
- Tapi mereka butuh yuan (RMB) untuk membayar gaji dan operasional di dalam negeri
- Dolar itu lalu ditukar ke yuan
Ini membuat pasokan dolar di China melimpah dan permintaan yuan meningkat.
Baca Juga: Prediksi Bitcoin Februari 2026: Stabil di US$75.000, Pulih Setelah Penurunan Tajam
Peran Bank Sentral China (PBOC)
Untuk mencegah yuan menguat terlalu cepat, Bank Sentral China (PBOC) turun tangan.
Caranya yakni dengan PBOC membeli dolar dari eksportir. Sebagai gantinya, PBOC mencetak dan memberikan yuan.
Karena PBOC bisa mencetak yuan, China jadi menumpuk cadangan dolar AS dalam jumlah besar. Inilah salah satu alasan utama China punya cadangan devisa raksasa.
Mengapa China Sengaja Menjaga Yuan Tetap Lemah?
Strategi China adalah pertumbuhan berbasis ekspor untuk menciptakan lapangan kerja bagi populasi besar.
Kalau yuan menguat:
- Barang China jadi lebih mahal di luar negeri
- Ekspor bisa turun
- Risiko pengangguran meningkat
Karena itu, China cenderung menjaga yuan lebih lemah terhadap dolar agar produknya tetap kompetitif di pasar global. Konsekuensinya: China terus menumpuk dolar AS.
Mengapa Cadangan Dolar Itu Dibeli dari Treasury AS?
Per Desember 2025, cadangan devisa China sekitar US$ 3,36 triliun.
Uang sebesar itu tidak bisa dibiarkan menganggur. China perlu menempatkannya di aset yang:
- Sangat aman
- Likuid
- Stabil
Pilihan paling masuk akal adalah US Treasury, karena:
- Dianggap investasi paling aman di dunia
- Lebih stabil dibanding saham, properti, atau obligasi negara lain
- Pasarnya sangat besar dan likuid
Eropa juga jadi alternatif, tapi secara umum, Treasury AS tetap jadi tujuan utama.
Baca Juga: Elon Musk Memperingatkan Amerika Serikat akan 1.000% Bangkrut













