Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Pengembangan berikutnya dilakukan melalui proyek IceCube-Gen2. Observatorium ini direncanakan mencakup sekitar 8 kilometer kubik es dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2033.
Fasilitas baru tersebut diperkirakan mampu mendeteksi neutrino hingga 10 kali lebih banyak, termasuk neutrino dengan energi yang lebih rendah. Dengan kapasitas itu, ilmuwan berharap dapat memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai sumber dan proses ekstrem di alam semesta.
Operasional IceCube juga menghadapi kondisi ekstrem. Selama musim dingin di Kutub Selatan, suhu dapat turun di bawah minus 50 derajat Celsius dan akses penerbangan terhenti selama berbulan-bulan. Karena itu, tim kecil harus tetap berada di lokasi untuk menjaga observatorium tetap beroperasi.
Baca Juga: Tak Bisa Sembunyi, Ditjen Pajak Klaim Coretax Bisa Ungkap Rahasia Wajib Pajak
Atas penghargaan tersebut, Halzen menerima hadiah senilai 12 juta krona Swedia atau sekitar US$1,2 juta. Ia menjadi salah satu penerima Nobel Fisika yang berkontribusi pada pengembangan penelitian neutrino, setelah Takaaki Kajita dari Jepang dan Arthur McDonald dari Kanada yang menerima Nobel pada 2015.
Nobel Fisika merupakan salah satu penghargaan tertinggi di bidang ilmu pengetahuan. Penghargaan ini sebelumnya diberikan kepada sejumlah ilmuwan terkemuka seperti Albert Einstein, Marie dan Pierre Curie, Max Planck, serta Niels Bohr.
Hadiah Nobel akan diserahkan di Stockholm pada 10 Desember, bertepatan dengan peringatan wafatnya Alfred Nobel.














