kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.886   -25,00   -0,14%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Francis Halzen Raih Nobel Fisika 2026, Ungkap Rahasia Kosmos dari Es Antarktika


Rabu, 07 Oktober 2026 / 05:56 WIB
Francis Halzen Raih Nobel Fisika 2026, Ungkap Rahasia Kosmos dari Es Antarktika
Francis Halzen, peraih Hadiah Nobel Fisika, berpose di Madison. (via REUTERS/Althea Dotzour/UW-Madison)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - STOCKHOLM. Fisikawan Belgia-Amerika Francis Halzen meraih Nobel Fisika 2026 atas kontribusinya dalam membangun observatorium di Antarktika untuk mendeteksi neutrino berenergi tinggi, partikel subatom yang nyaris tidak berinteraksi dengan materi.

Penelitian ini membuka cara baru untuk mempelajari berbagai fenomena ekstrem di alam semesta. 

Halzen, 82 tahun, memanfaatkan es murni di Kutub Selatan sebagai media untuk menangkap jejak neutrino. Partikel ini kerap disebut sebagai "partikel hantu" karena dapat menembus Bumi tanpa banyak berinteraksi dengan materi.

"Para pembawa pesan ini membawa informasi dari kosmos," kata Eva Olsson dari Royal Swedish Academy of Sciences.

Baca Juga: Asam Urat Kambuh Terus? Dokter Ungkap Rahasia Diet Efektifnya

Neutrino tidak memiliki muatan listrik sehingga tidak terpengaruh medan magnet.

Karena itu, arah kedatangannya dapat membantu ilmuwan melacak kembali sumbernya, termasuk ledakan bintang, semburan sinar gamma, serta fenomena ekstrem yang melibatkan lubang hitam dan bintang neutron.

Gagasan Halzen mulai dikembangkan sejak 1988 dan kemudian diwujudkan melalui observatorium IceCube yang selesai pada 2011.

Fasilitas ini pada dasarnya merupakan teleskop yang tidak mengamati cahaya, melainkan mencari jejak neutrino di dalam sekitar satu kilometer kubik es Antarktika.

IceCube dilengkapi lebih dari 5.000 sensor yang tertanam hingga kedalaman sekitar 2.500 meter. Sensor tersebut menangkap kilatan cahaya yang muncul ketika neutrino berinteraksi dengan materi di dalam es.

Baca Juga: Pakar Ungkap Rahasia Diet Cristiano Ronaldo untuk Jaga Kebugaran di Usia 41 Tahun

Pengamatan IceCube menunjukkan bahwa neutrino berenergi tinggi berasal dari dalam maupun luar Galaksi Bima Sakti. Temuan tersebut membuka peluang bagi astronom untuk mengidentifikasi objek dan proses yang menghasilkan partikel berenergi sangat tinggi tersebut.

Halzen sebelumnya mendapat julukan "Neutrino Man" dari Smithsonian Magazine pada 2014. Penghargaan tersebut diberikan atas eksperimennya yang dinilai membuka era baru dalam astronomi.

Menurut Halzen, hasil terbesar dari penelitian tersebut justru belum sepenuhnya terlihat. Pengembangan observatorium masih berpotensi menghasilkan informasi baru mengenai alam semesta.

"The real excitement is that I cannot answer that question yet," ujar Halzen. Ia menilai penelitian neutrino baru menjadi awal dari perkembangan astronomi berbasis partikel tersebut.

IceCube akan diperluas

Pengembangan berikutnya dilakukan melalui proyek IceCube-Gen2. Observatorium ini direncanakan mencakup sekitar 8 kilometer kubik es dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2033.

Fasilitas baru tersebut diperkirakan mampu mendeteksi neutrino hingga 10 kali lebih banyak, termasuk neutrino dengan energi yang lebih rendah. Dengan kapasitas itu, ilmuwan berharap dapat memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai sumber dan proses ekstrem di alam semesta.

Operasional IceCube juga menghadapi kondisi ekstrem. Selama musim dingin di Kutub Selatan, suhu dapat turun di bawah minus 50 derajat Celsius dan akses penerbangan terhenti selama berbulan-bulan. Karena itu, tim kecil harus tetap berada di lokasi untuk menjaga observatorium tetap beroperasi.

Baca Juga: Tak Bisa Sembunyi, Ditjen Pajak Klaim Coretax Bisa Ungkap Rahasia Wajib Pajak

Atas penghargaan tersebut, Halzen menerima hadiah senilai 12 juta krona Swedia atau sekitar US$1,2 juta. Ia menjadi salah satu penerima Nobel Fisika yang berkontribusi pada pengembangan penelitian neutrino, setelah Takaaki Kajita dari Jepang dan Arthur McDonald dari Kanada yang menerima Nobel pada 2015.

Nobel Fisika merupakan salah satu penghargaan tertinggi di bidang ilmu pengetahuan. Penghargaan ini sebelumnya diberikan kepada sejumlah ilmuwan terkemuka seperti Albert Einstein, Marie dan Pierre Curie, Max Planck, serta Niels Bohr.

Hadiah Nobel akan diserahkan di Stockholm pada 10 Desember, bertepatan dengan peringatan wafatnya Alfred Nobel.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×