kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS702.000 -0,57%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Gen termutasi sulut ketergantungan pada perokok


Jumat, 16 November 2018 / 06:54 WIB

Gen termutasi sulut ketergantungan pada perokok
ILUSTRASI. ilustrasi kesehatan rokok

KONTAN.CO.ID - DW. Konsumsi tembakau adalah risiko kesehatan manusia terbesar, yang bisa dihindari. Walaupun risiko diketahui, dan kampanye pencegahan sudah dilaksanakan di berbagai bagian dunia, setiap tahunnya, di seluruh dunia sekitar enam hingga tujuh juta orang meninggal akibat dampak merokok. Jika bahayanya sudah diketahui, mengapa berhenti merokok sangat sulit. Juga mengapa mereka yang sudah berhenti, mulai merokok kembali?

Hal ini rupanya tidak terkait dengan kurangnya niat untuk berhenti merokok.Yang bertanggungjawab adalah mutasi gen, dan kerentanannya terhadap nikotin juga sudah diketahui selama ini. Ilmuwan dari Institut Pasteur dan institut Perancis National Center for Scientific Research bekerjasama dengan Universitas Sorbonne dan Insern mengadakan kerjasama dan mengungkap, mutasi gen yang dicatat pada tikus, juga menyebabkan orang yang sudah berhenti merokok kembali merokok lagi. Mutasi ini juga bisa ditemukan pada manusia. Yaitu pada sekitar 35% warga Eropa, dan sampai 50% dari penduduk Timur Tengah.

Reseptor nikotin sulut aktivitas "lingkaran setan"

Menurut studi yang dipublikasikan dalam majalah "Current Biology", nikotin menyebabkan ketagihan karena mengikat reseptor nikotin di otak. Akibatnya, otak mengaktifkan perasaan mendapat pahala, dan menyulut perasaan senang. Dalam beberapa tahun terakhir, studi besar-besaran atas gen manusia menunjukkan, mutasi pada gen CHRNA5 berkaitan dengan bertambahnya risiko ketergantungan pada nikotin secara signifikan.

Berdasarkan hasil studi ini, para ilmuwan mengadakan percobaan mutai pada seekor tikus dengan bantuan teknik di bidang gen molekuler. Mereka kemudian menilai perilaku tikus dalam beberapa hal, dan menunjukkan bahwa mutasi gen menyebabkan konsumsi Nikotin yang makin tinggi, dan kemungkinan kembali merokok setelah berhenti juga bertambah. "Studi ini memungkinkan kami menilai dampak mutasi gen atas sejumlah stadium ketergantungan pada nikotin dengan presisi tinggi. Ini memberikan penjelasan pertama bagaimana berfungsinya mekanisme yang menyebabkan orang kembali merokok setelah berhenti", demikian dikatakan penulis studi Benoit Forget.

Dasar untuk mencari obat

Yang menarik, penelitian menunjukkan, efek ini berkaitan dengan berkurangnya aktivitas neuron di nucleus interpeduncularis, yaitu sebuah area di bagian tengah otak. Bagian ini adalah struktur otak dengan konsentrasi terbesar dari apa yang disebut subunit reseptor α-Nikotin, atau reseptor nicotinic acetylcholine.

Berdasarkan hasil studi, kini para pakar kedokteran berusaha mencari "obat yang mampu meningkatkan aktivitas reseptor nikotin subunit α, agar konsumsi tembakau berkurang dan kemungkinan orang kembali merokok juga berkurang", demikian dikatakan Uwe Maskos, kepala bagian neurobiologi integratif pada bagian Sistem Cholinerge di Institut Pasteur dan CNRS.


Sumber : DW.com
Editor: Sri Sayekti
Video Pilihan

Tag
TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0542 || diagnostic_web = 0.3424

Close [X]
×