Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang baru berjalan dua hari belum mampu meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Hingga Jumat (10/4/2026), Selat Hormuz masih tertutup, sementara Israel dan kelompok Hezbollah terus saling melancarkan serangan di Lebanon.
Baik Washington maupun Teheran saling menuding pelanggaran kesepakatan gencatan senjata, sehari menjelang rencana perundingan damai pertama yang akan digelar di Islamabad, Pakistan.
Gencatan senjata tersebut memang menghentikan serangan udara AS dan Israel ke Iran, tetapi belum membuka blokade Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan energi dunia. Penutupan ini memicu gangguan terbesar dalam sejarah terhadap distribusi energi global.
Presiden AS Donald Trump menyebut Iran tidak menjalankan kesepakatan dengan baik. Dalam pernyataan di media sosial, Trump mengatakan Teheran melakukan “pekerjaan yang sangat buruk” dalam membuka jalur minyak di selat tersebut, meski ia mengklaim aliran minyak akan segera pulih tanpa menjelaskan caranya.
Baca Juga: PM Inggris dan Trump Bahas Opsi Militer untuk Amankan Selat Hormuz
Islamabad Dikunci Jelang Perundingan Damai
Menjelang perundingan damai, pusat kota Islamabad diberlakukan lockdown penuh dengan zona pengamanan ketat di sekitar lokasi pertemuan. Delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, sementara delegasi AS akan dipimpin Wakil Presiden JD Vance.
Pakistan sebagai mediator berupaya menjaga kelancaran pertemuan tersebut di tengah meningkatnya ketegangan dan saling tuding pelanggaran gencatan senjata.
Iran menilai serangan Israel di Lebanon melanggar kesepakatan gencatan senjata, yang menurutnya juga mencakup wilayah Lebanon. Namun, AS dan Israel berpendapat bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan perjanjian tersebut.
Meski demikian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kesediaan membuka jalur negosiasi terpisah dengan pemerintah Lebanon guna mengakhiri konflik dan melucuti Hezbollah.
Dampak Energi Global Masih Terasa
Harapan bahwa pasokan minyak dari Timur Tengah akan kembali normal mulai muncul setelah gencatan senjata, namun realisasinya masih terbatas. Dalam 24 jam pertama gencatan senjata, hanya satu kapal tanker produk minyak dan lima kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz, jauh di bawah rata-rata harian sekitar 140 kapal.
Harga minyak untuk pengiriman langsung tetap tinggi, bahkan mendekati US$150 per barel di beberapa kilang di Eropa dan Asia. Kondisi ini memperburuk tekanan inflasi global, termasuk di Amerika Serikat yang mulai merilis data dampak awal perang terhadap harga konsumen.
Baca Juga: Min Aung Hlaing Janjikan Perbaikan Hubungan ASEAN dan Dorong Investasi di Myanmar
Meski Trump mengklaim kemenangan, sejumlah target utama belum tercapai. Iran masih memiliki kemampuan militer untuk menyerang negara tetangga, termasuk persediaan rudal dan drone, serta cadangan uranium yang mendekati tingkat pengayaan untuk senjata nuklir.
Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa Teheran akan menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang. Ia juga menegaskan tidak akan membiarkan agresi terhadap Iran tanpa balasan.
Di sisi lain, AS tetap menuntut Iran untuk menghentikan program nuklir, menyerahkan cadangan uranium, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok sekutu di kawasan.
Konflik Lebanon Memanas
Di tengah gencatan senjata, konflik di Lebanon justru meningkat. Israel melancarkan serangan besar yang menewaskan lebih dari 250 orang, sementara Hezbollah membalas dengan serangan roket ke wilayah Israel utara, termasuk kota Haifa.
Militer Israel menyatakan telah menghancurkan sejumlah peluncur roket di Lebanon, sementara Hezbollah mengklaim menargetkan infrastruktur militer Israel.
Upaya diplomatik terus dilakukan. Seorang pejabat Lebanon menyebut negaranya tengah mendorong gencatan senjata sementara sebagai langkah awal menuju negosiasi lebih luas dengan Israel, mengikuti model kesepakatan AS-Iran.
Dengan situasi yang masih rapuh, perundingan damai di Islamabad menjadi harapan utama untuk meredakan konflik yang telah mengguncang stabilitas energi dan keamanan global.













