Goldman Sachs: Marak PHK di Perusahaan Teknologi Bukan sebagai Tanda Resesi

Rabu, 16 November 2022 | 12:33 WIB   Reporter: Diki Mardiansyah
Goldman Sachs: Marak PHK di Perusahaan Teknologi Bukan sebagai Tanda Resesi

ILUSTRASI. Bank investasi asal Amerika Serikat (AS) The Goldman Sachs Inc menolak anggapan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi belakangan ini di perusahaan teknologi besar dunia sebagai tanda resesi yang membayangi AS.


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Bank investasi asal Amerika Serikat (AS) The Goldman Sachs Inc menolak anggapan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi belakangan ini di perusahaan teknologi besar dunia sebagai tanda resesi yang membayangi AS.

"PHK perusahaan teknologi bukanlah sebagai tanda resesi yang akan datang di masa mendatang," tulis kepala ekonom Goldman Sachs Jan Hatzius dalam sebuah catatan kepada klien pada hari Selasa (15/11).

Mengutip Yahoo Finance pada Rabu (16/11), PHK di perusahaan teknologi dunia semakin meningkat. PHK terjadi lantaran harga saham perusahaan teknologi yang terus anjlok dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Dalam dua minggu terakhir saja, Meta dan Amazon telah mengumumkan PHK gabungan sebanyak 21.000 karyawan setelah hasil kinerja kuartal ketiga yang mengecewakan perusahaan.

Baca Juga: Badai PHK Melanda Perusahaan Teknologi, Apakah GoTo Berikutnya?

Sementara, Twitter telah memangkas 3.700 karyawan karena pemilik baru Elon Musk melakukan reset pada bisnis platform media sosial Twitter.

Hatzius menghitung, ada sekitar 34.000 karyawan yang terkena PHK dari perusahaan teknologi besar pada bulan November 2022 ini.

Namun demikian, ekonom lama Goldman membeberkan tiga alasan mengapa PHK yang terjadi belakangan ini bukan sebagai pertanda masa ekonomi yang lebih suram di masa depan atau resesi. Pertama, industri teknologi tidak mendominasi dunia kerja. Industri teknologi menyumbang sebagian kecil dari seluruh pekerjaan secara agregat.

Misalnya, dengan terjadinya PHK industri teknologi, tingkat pengangguran hanya akan naik kurang dari 0,3 poin persentase.

Kedua, lowongan pekerjaan sebagai teknisi masih dibuka. Lowongan pekerjaan di perusahaan teknologi tetap jauh di atas tingkat sebelum pandemi. Dengan demikian, pekerja teknologi yang di PHK harus memiliki peluang bagus untuk menemukan pekerjaan baru di perusahaan lain.

Ketiga, PHK pekerja di bidang teknologi sering melonjak di masa lalu tanpa adanya peningkatan jumlah total PHK yang signifikan. Secara historis juga tidak menjadi indikator utama penurunan pasar tenaga kerja yang lebih luas di AS. Selain itu, PHK di industri lain juga masih terlihat sangat minim terjadi.

Baca Juga: Badai PHK Sambangi Amazon, 10.000 Karyawan Bakal Dirumahkan?

Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru