Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pemerintah China memberi sinyal akan tetap berhati-hati dalam mengelola ekonominya tahun ini. Di tengah pelemahan sektor properti dan ketidakpastian global, negeri Tirai Bambu ini justru menurunkan target pertumbuhan ekonomi.
Mengutip Bloomberg (5/2), Perdana Menteri Li Qiang menetapkan target pertumbuhan ekonomi 4,5%–5% pada 2026 saat menyampaikan laporan pemerintah pada pembukaan sidang tahunan National People's Congress, Kamis (5/3). Target tersebut lebih rendah dibanding realisasi 5% pada 2025 dan menjadi yang terendah sejak awal 1990-an.
Dalam pidato lebih dari satu jam, Li mengakui bahwa ekonomi China menghadapi tekanan yang tidak ringan. “Kami menyadari secara jelas berbagai kesulitan dan tantangan yang ada,” ujar Li dalam laporan setebal 35 halaman tersebut.
Pemerintah China saat ini berada dalam dilema. Di satu sisi, Beijing ingin memulihkan ekonomi yang melemah dengan mendorong konsumsi domestik. Namun di sisi lain, kepemimpinan Xi Jinping tetap berambisi mempercepat pengembangan teknologi strategis seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, dan teknologi canggih lainnya.
Meski begitu, laporan pemerintah tidak menunjukkan rencana stimulus besar dalam jangka pendek. Pemerintah hanya menegaskan komitmen untuk menjaga permintaan domestik secara bertahap.
Baca Juga: Penjualan Tesla di Inggris Anjlok 37% pada Februari, Tertekan Produsen EV China
Tekanan global
Di tengah kondisi tersebut, China juga menghadapi tekanan eksternal yang meningkat. Pemerintah menilai perdagangan bebas kini berada dalam ancaman serius akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Selain itu, konflik di Timur Tengah turut menambah risiko bagi China yang masih sangat bergantung pada impor energi dari kawasan tersebut. Lonjakan harga minyak dan gas juga berpotensi menekan biaya produksi dan konsumsi domestik.
Di dalam negeri, masalah struktural juga belum sepenuhnya teratasi. Laporan pemerintah menyoroti ketidakseimbangan antara kapasitas produksi manufaktur yang kuat dengan permintaan domestik yang masih lemah.
“Jarang dalam beberapa tahun terakhir kita menghadapi situasi yang begitu kompleks, di mana guncangan eksternal bertemu dengan berbagai kesulitan domestik,” kata Li.
Lesunya konsumsi menjadi tantangan utama bagi pemulihan ekonomi China. Selama ini, pertumbuhan masih banyak ditopang oleh ekspor.
Surplus perdagangan China bahkan melonjak hingga hampir US$ 1,2 triliun pada tahun lalu, meskipun ekspor ke Amerika Serikat melemah setelah kebijakan tarif yang diperketat oleh Presiden Donald Trump.
Namun lonjakan ekspor ke berbagai negara juga memicu resistensi dari sejumlah pemerintah yang khawatir produk murah China akan menekan industri domestik mereka.
Untuk mendorong konsumsi, pemerintah berencana menerbitkan obligasi senilai 250 miliar yuan guna membiayai program insentif bagi masyarakat yang menukar mobil, peralatan rumah tangga, dan barang lama dengan produk baru.
Selain itu, pemerintah daerah juga diminta menyesuaikan kebijakan perumahan guna mengurangi kelebihan pasokan rumah yang belum terjual dan menstabilkan pasar properti.
Krisis properti sendiri telah memukul daya beli masyarakat. Banyak pekerja kehilangan pekerjaan, sementara harga rumah yang melemah menggerus nilai kekayaan rumah tangga.
Baca Juga: Dolar AS Menguat di Tengah Perang Israel–Iran, Pasar Global Bergejolak
Anggaran militer tetap naik
Di tengah tekanan ekonomi, China tetap meningkatkan anggaran pertahanan. Dalam rancangan anggaran 2026, belanja militer diperkirakan naik 7% menjadi sekitar 1,9 triliun yuan.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah upaya pembersihan besar-besaran terhadap pejabat militer yang terjerat kasus korupsi.
Sejumlah analis menilai langkah tersebut tidak hanya bertujuan mereformasi dan memodernisasi militer, tetapi juga memastikan kendali penuh Partai Komunis terhadap militer, khususnya terhadap Tentara Pembebasan Rakyat.
Dengan berbagai tekanan yang ada, upaya China untuk menggeser mesin pertumbuhan dari ekspor dan investasi menuju konsumsi domestik diperkirakan tidak akan terjadi secara instan. Tanpa perbaikan sektor properti, pasar tenaga kerja, dan jaminan sosial, rumah tangga China diperkirakan masih akan menahan belanja mereka dalam waktu dekat.
Baca Juga: Harga Aluminium Naik Seiring Meningkatnya Kekhawatiran Pasokan dari Timur Tengah













