Hadapi ancaman pandemi, Warren Buffett agresif melakukan buyback saham Berkshire

Senin, 08 November 2021 | 15:44 WIB   Reporter: Ferrika Sari
Hadapi ancaman pandemi, Warren Buffett agresif melakukan buyback saham Berkshire

ILUSTRASI. Berkshire Hathaway Chairman Warren Buffett . REUTERS/Scott Morgan 


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Investor kawakan Warren Buffett terus melanjutkan strategi menghadapi ancaman pandemi. Kini Buffett melancarkan aksi pembelian kembali atau buyback saham Berkshire Hathaway Inc.  

Pada kuartal III-2021, Buffett menjual saham Berkshire Hathaway senilai US$ 2 miliar lalu membelinya kembali menjadi US$ 7,6 miliar. Melalui aksi Buffet, Berkshire sukses kantongi cadangan kas senilai US$ 149 miliar, atau mencatatkan rekor tertinggi. 

Aksi buyback Buffet memang terjadi beberapa kali saat pandemi. Hal ini menjadi strategi investor ulung seperti Buffet untuk menyesuaikan portofolio di tengah kenaikan harga saham. 

Dilansir Businessinsider, Senin (8/11), Buffett memiliki sejumlah bisnis termasuk See's Candies dan Geico, dan memegang saham bernilai miliaran dolar di Apple, Coca-Cola, dan perusahaan publik lainnya.

Buffet memang agresif melakukan aksi buyback. Ia rela menghabiskan US$ 1,4 miliar untuk saham dan menjual senilai US$ 3,4 miliar pada periode tersebut. Sebagai perbandingan, ia membeli sekitar US$ 1 miliar dan menjual US$ 2,1 miliar saham pada kuartal kedua.

Baca Juga: Keuntungan Berkshire Hathaway terhambat masalah rantai pasokan

Transaksi terakhir Buffet adalah menjual saham Berkshire sekitar US$ 2 miliar pada kuartal III 2021. Hal ini berhasil mengangkat penjualan saham secara bersih selama sembilan bulan pertama 2021 menjadi US$ 7 miliar.

Tak hanya itu, bos Berkshire ini juga menghabiskan US$7,6 miliar untuk membeli kembali saham perusahaan pada periode yang sama. Hal ini dilakukan setelah aksi buy back melambat pada kuartal pertama dan kedua yang masing - masing sebesar US$ 6,6 miliar dan US$ 6 miliar. 

Ia melakukan aksi buyback lebih dari US$20 miliar dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Aksi buyback yang lebih agresif berhasil mengangkat kas perusahaan yang mencatatkan rekor senilai US$ 149 miliar, naik dari US$ 144 miliar pada kuartal kedua. 

Sementara itu, pendapatan Berkshire naik 12% menjadi sekitar US$71 miliar karena banyak bisnisnya pulih dari pandemi. Namun, penurunan tajam dalam investasi dan keuntungan derivatif berarti laba bersihnya merosot hampir dua pertiga menjadi di bawah US$ 11 miliar.

Sebaliknya, harga saham yang mendekati rekor, persaingan ketat untuk akuisisi dari perusahaan ekuitas swasta dan SPAC, dan kenaikan harga saham Berkshire membuat pembelian kembali kurang menarik, dan sulit untuk menemukan investasi yang menarik selama 18 bulan terakhir .

Buffett dan timnya telah bereaksi terhadap tantangan tersebut dengan memperluas wawasan mereka. Selama satu setengah tahun terakhir, Berkshire telah berinvestasi di perusahaan teknologi seperti platform data cloud Snowflak e dan fintech Brasil Nubank, kuintet perusahaan perdagangan Jepang, dan sekeranjang perusahaan farmasi .

Di sisi lain, Berkshire telah memusatkan portofolionya. Ia telah menjual sahamnya di JPMorgan, Goldman Sachs dan beberapa perusahaan lain sejak pasar jatuh pada musim semi 2020. 

Selanjutnya: Kini, Elon Musk 3 kali lipat lebih kaya dari Warren Buffett

 

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru