Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai ketika ketidakpastian global meningkat.
Sepanjang tahun ini, harga emas telah mencetak beberapa rekor baru dan naik hampir 23%.
Kenaikan tersebut melanjutkan lonjakan besar pada tahun 2025, ketika harga emas melonjak sekitar 64%.
Reli harga emas dipicu oleh pembelian besar dari bank sentral, masuknya dana ke produk exchange traded fund (ETF) berbasis emas, serta perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat yang cenderung lebih longgar.
Di sisi lain, tiga sumber dari industri logam menyebut arus perdagangan emas fisik melalui pusat perdagangan emas di Dubai berpotensi terganggu dalam beberapa hari ke depan.
Hal ini terjadi karena sejumlah maskapai membatalkan penerbangan akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Tonton: Selat Hormuz Ditutup! Ekonomi RI Terancam, Biaya Ekspor Impor Bisa Meledak
Investor menunggu data ekonomi AS
Dari sisi data ekonomi, pasar pekan ini akan mencermati sejumlah indikator penting dari Amerika Serikat.
Beberapa di antaranya adalah laporan ketenagakerjaan ADP, data klaim pengangguran mingguan, serta laporan non-farm payrolls yang sering menjadi acuan kondisi pasar tenaga kerja AS.
Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya justru melemah.
Harga perak spot turun 5,7% menjadi US$ 88,46 per ons setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 30 Januari.
Harga platinum turun 2,7% menjadi US$ 2.300,50 per ons, sedangkan palladium melemah 0,9% menjadi US$ 1.770,66 per ons.













