Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas kembali tertekan pada perdagangan Selasa (6/10), seiring penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury.
Namun, penurunan harga emas masih terbatas karena ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober mulai mereda.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 0,3% menjadi US$ 4.128,83 per ons troi pada pukul 04.00 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS relatif stabil di level US$ 4.155,90 per ons troi.
Baca Juga: Korea Selatan Siapkan US$ 3,5 Miliar untuk Kembangkan AI Frontier
Penguatan dolar AS membuat emas yang dihargai dalam mata uang greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Kondisi tersebut turut menekan permintaan terhadap logam mulia.
Di sisi lain, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun pada Senin (5/10), di tengah sentimen negatif yang masih membayangi pasar obligasi.
Analis Senior Pasar Keuangan Capital.com Kyle Rodda mengatakan, fundamental emas masih mendukung prospek harga dalam jangka panjang.
Menurut dia, risiko geopolitik di Timur Tengah dapat menjadi katalis utama bagi pergerakan harga emas berikutnya.
"Fundamental tetap mendukung emas dalam jangka panjang. Katalis besar berikutnya kemungkinan berasal dari risiko geopolitik di Timur Tengah," kata Rodda.
Baca Juga: Indeks Nikkei Menguat di Sesi Pertama, Didukung Reli Wall Street & Harga Minyak Turun
Menurut Rodda, perubahan signifikan dalam ekspektasi suku bunga AS juga dapat menjadi pemicu pergerakan harga emas berikutnya.
Karena itu, pelaku pasar akan mencermati setiap data ekonomi yang berpotensi memengaruhi prospek kebijakan The Fed.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mulai berkurang setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pertumbuhan pekerjaan pada September melambat lebih dari perkiraan. Selain itu, data nonfarm payrolls untuk dua bulan sebelumnya juga direvisi turun.
Meski demikian, pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember cukup tinggi.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 87%.
Kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan biaya peluang atau opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Stabil Selasa (6/10), Peso Filipina dan Won Korea Melemah
Data ekonomi terbaru juga menunjukkan aktivitas sektor jasa AS melambat pada September. Namun, permintaan domestik yang masih kuat membuat rantai pasokan kembali tertekan dan mendorong indeks harga yang dibayar pelaku usaha untuk input ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.
Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan inflasi AS berpotensi tetap tinggi hingga 2027 dan dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.
Sementara itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar. Pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dilaporkan melakukan serangan cepat untuk merebut kembali wilayah pesisir di sekitar Selat Bab el-Mandeb hingga Kota Mocha.
Langkah tersebut mendorong pasukan Houthi yang didukung Iran keluar dari sebagian besar wilayah yang mereka kuasai pada bulan lalu.
Di pasar logam lainnya, harga perak spot turun 0,6% menjadi US$ 60,69 per ons troi. Harga platinum melemah 0,5% menjadi US$ 1.712,20 per ons troi, sedangkan palladium turun 0,5% menjadi US$ 1.166,86 per ons troi.














