Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga emas melemah selama empat sesi berturut-turut pada Rabu (21/10/2026) karena kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi, sementara para investor menantikan pertemuan kebijakan Federal Reserve minggu depan untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga di masa depan.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 0,2% menjadi US$ 4.118,18 per ons pada pukul 03.19 GMT, sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember turun 0,2% menjadi US$ 4.136,20.
"Logam mulia ini mungkin akan tetap berada di bawah tekanan karena harga minyak mentah kembali naik, yang menjaga tekanan inflasi tetap ada dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat (hawkish)," ujar Bas Kooijman, CEO dan manajer aset di DHF Capital S.A.
Baca Juga: Harga Emas Turun untuk Empat Sesi Berturut-turut, Tersandung Kenaikan Harga Minyak
Harga minyak naik tipis pada hari Rabu di tengah kekhawatiran pasokan dari Timur Tengah, dengan para pedagang mewaspadai risiko pelayaran di Laut Merah serta ancaman terhadap infrastruktur minyak di Arab Saudi.
"Saat ini, jika beberapa kenaikan suku bunga yang telah diantisipasi pasar untuk tahun depan ternyata tidak terjadi—atau setidaknya probabilitasnya menurun—maka hal itu kemungkinan akan mendorong harga emas lebih tinggi," kata Ilya Spivak, kepala makro global di Tastylive.
The Fed diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga bulan ini, melainkan akan melakukannya pada bulan Desember, menurut hampir semua ekonom yang disurvei oleh Reuters. Para pengambil kebijakan menunjukkan sikap sabar, meskipun inflasi yang membandel menuntut respons yang lebih tegas.
Berdasarkan FedWatch Tool dari CME, ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bank sentral tanggal 27–28 Oktober berada di angka rendah, yakni 16%; sementara itu, para pelaku pasar masih melihat peluang sebesar 90% untuk kenaikan suku bunga pada bulan Desember.
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk menyimpan logam mulia tersebut, yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.
Baca Juga: Yuan China Sentuh Level Tertinggi Sejak 2022, Ekspor Jadi Penopang
Indeks dolar AS kembali stabil setelah sempat melemah, yang selanjutnya mengurangi permintaan terhadap emas.
Pasar juga tengah menantikan data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS pekan depan—indikator yang menjadi acuan utama The Fed dalam memantau target inflasi sebesar 2%.














