Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga emas melemah pada perdagangan Senin (20/7/2026) setelah eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$ 90 per barel, memicu kembali kekhawatiran inflasi.
Di saat yang sama, semakin banyak pejabat Federal Reserve (The Fed) yang memberi sinyal perlunya kenaikan suku bunga untuk mengendalikan tekanan harga.
Baca Juga: Kapitalisasi Bursa China Susut US$ 1,48 triliun, Regulator dan Pelaku Pasar Bergerak
Mengutip Reuters, hingga pukul 00.58 GMT, harga emas spot turun 0,4% menjadi US$ 4.000,55 per ons troi.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun 0,3% menjadi US$ 4.005,90 per ons.
Pelemahan tersebut terjadi setelah emas sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan pada Jumat lalu dan membukukan penurunan mingguan sekitar 2,5%.
Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi
Tekanan terhadap emas muncul setelah harga minyak melonjak sekitar 3%, dengan minyak Brent menembus US$ 90 per barel.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Tembus US$ 90, Konflik AS-Iran Ancam Pasokan Energi Global
Kenaikan dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah. Amerika Serikat mengumumkan telah menyelesaikan serangan terhadap Iran untuk malam kesembilan berturut-turut, setelah sebelumnya menyatakan sedikitnya dua personel militernya tewas di Yordania.
Sementara itu, sejumlah sekutu AS di kawasan juga melaporkan adanya serangan lanjutan dari Iran pada Minggu.
Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi akan kembali meningkat, sehingga memperbesar peluang bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Pejabat The Fed Makin Hawkish
Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, menjadi pejabat terbaru yang menyuarakan kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga guna menekan inflasi yang masih bertahan.
Baca Juga: Samsung Biologics Siapkan Akuisisi PolyPeptide Senilai US$ 1,81 Miliar
Pernyataan tersebut menambah deretan komentar bernada hawkish dari pejabat The Fed menjelang rapat kebijakan berikutnya, sekaligus meningkatkan kemungkinan terjadinya perbedaan pandangan dalam rapat kedua di bawah kepemimpinan Ketua The Fed, Kevin Warsh.
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Data AS dan Permintaan Fisik
Di sisi lain, indeks sentimen konsumen Amerika Serikat naik ke level tertinggi dalam lima bulan pada Juli. Namun, para analis menilai perbaikan tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara mengingat konflik Timur Tengah kembali mendorong kenaikan harga bahan bakar.
Data Commodity Futures Trading Commission (CFTC) menunjukkan spekulan di pasar COMEX menambah posisi beli bersih (net long) emas sebanyak 4.294 kontrak menjadi 119.147 kontrak pada pekan yang berakhir 14 Juli.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Hati-hati Senin (20/7), Minyak Tembus US$ 90 akibat Konflik Teluk
Sementara itu, permintaan emas fisik di Asia masih lesu.
Diskon harga emas di India melebar ke level tertinggi dalam satu bulan akibat lemahnya permintaan perhiasan dan harapan pembeli akan penurunan harga lebih lanjut.
Di China, premi emas relatif stabil di tengah permintaan ritel yang masih lemah.
Adapun logam mulia lainnya bergerak menguat. Harga perak spot naik 0,9% menjadi US$ 56,42 per ons, platinum menguat 0,1% menjadi US$ 1.592,97 per ons, dan paladium naik 0,3% menjadi US$ 1.251,74 per ons.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
