Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pergerakan bursa saham Asia cenderung hati-hati pada perdagangan Senin (20/7/2026), seiring melonjaknya harga minyak akibat eskalasi konflik di kawasan Teluk yang kembali memicu kekhawatiran inflasi.
Pada saat yang sama, investor juga bersiap menghadapi musim laporan keuangan emiten teknologi raksasa yang akan menguji optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: De la Fuente: Kekompakan Jadi Kunci Spanyol Juara Dunia 2026
Harga minyak mentah Brent naik sekitar 3% hingga menembus level US$ 90 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan.
Kenaikan dipicu berlanjutnya serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran yang telah memasuki hari kesembilan berturut-turut, disertai serangan balasan Iran ke sejumlah target di kawasan.
Lonjakan harga energi kembali memunculkan kekhawatiran inflasi, meskipun data inflasi konsumen Amerika Serikat pekan lalu menunjukkan hasil yang lebih rendah dari perkiraan.
Kini pasar berjangka memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga sekitar 29 basis poin hingga akhir tahun.
"Kami masih memperkirakan The Fed baru akan mulai menaikkan suku bunga secara bertahap pada 2027, tetapi keseimbangan risikonya kini bergeser ke arah kenaikan yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya," kata Kepala Ekonom JPMorgan Bruce Kasman.
Baca Juga: Warga China Rela Keluar Rp 3 Jutaan demi Merasakan Simulasi Topan
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September.
Prospek tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun kembali menembus 5%, level yang umumnya membuat investor beralih dari saham ke instrumen pendapatan tetap.
Kenaikan imbal hasil obligasi juga muncul ketika valuasi saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor dan AI, mulai dipertanyakan.
Indeks Philadelphia Semiconductor telah merosot sekitar 10% pekan lalu dan kini terkoreksi sekitar 20% dari rekor tertingginya pada Juni.
Sentimen pasar juga tertekan setelah perusahaan AI asal China, Moonshot, memperkenalkan model AI open-weight terbaru Kimi K3, yang diklaim memiliki kemampuan mendekati model unggulan milik perusahaan AI Amerika Serikat, Anthropic.
Baca Juga: Hanya Sedikit Kapal Tanker Masuk Selat Hormuz untuk Memuat Minyak
Fokus ke Laporan Keuangan Big Tech
Perhatian investor pekan ini tertuju pada laporan kinerja sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Alphabet, Intel, dan Tesla.
Analis Bank of America Savita Subramanian tetap optimistis terhadap musim laporan keuangan kali ini. Ia memperkirakan laba perusahaan akan melampaui konsensus sekitar 5%, atau tumbuh 28% dibanding tahun lalu.
Sektor teknologi diperkirakan menjadi penyumbang lebih dari separuh pertumbuhan laba, sementara laba industri semikonduktor diproyeksikan melonjak sekitar 130% secara tahunan.
Optimisme tersebut membantu kontrak berjangka S&P 500 naik 0,2%, sedangkan Nasdaq futures menguat 0,4%.
Di Eropa, kontrak berjangka EURO STOXX 50 dan DAX masing-masing naik 0,2%, sementara FTSE futures bergerak datar.
Baca Juga: Rekor Bersejarah Spanyol! 38 Laga Tanpa Kekalahan Hingga Juara Piala Dunia 2026
Bursa Asia Melemah
Di kawasan Asia, perdagangan berlangsung hati-hati.
Bursa Jepang tutup karena libur nasional, setelah pekan lalu indeks Nikkei anjlok 6,4% akibat aksi jual saham teknologi.
Sementara itu, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,3%.
Bursa Korea Selatan yang banyak dihuni saham semikonduktor melemah 0,6%, setelah pekan sebelumnya merosot hampir 9% akibat aksi jual besar-besaran dan tekanan pada posisi investor ritel yang menggunakan leverage.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Dipicu Serangan AS & Iran yang Makin Intensif di Timur Tengah
ECB dan Pergerakan Mata Uang
Lonjakan harga minyak juga menjadi tantangan bagi Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan menggelar rapat kebijakan pada Kamis pekan ini.
Pasar memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga di level 2,25%, setelah menaikkannya pada Juni.
Namun, investor hampir sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga lagi pada September, dengan suku bunga diperkirakan mencapai 2,75% pada awal tahun depan.
Di pasar valuta asing, euro stabil di US$ 1,1433, sementara dolar AS diperdagangkan di 162,41 yen, mendekati level tertinggi dalam 40 tahun.
Pemerintah Jepang kembali mengingatkan siap melakukan intervensi apabila pelemahan yen berlangsung terlalu cepat.
Sementara itu, kenaikan imbal hasil obligasi menekan harga emas. Logam mulia tersebut turun sekitar 0,6% menjadi US$ 3.993 per ons.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
