Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga jagung dan kedelai di Bursa Chicago (CBOT) bergerak stabil pada perdagangan Selasa (7/7/2026) setelah melonjak pada sesi sebelumnya.
Kekhawatiran terhadap cuaca panas di Amerika Serikat (AS) serta munculnya kembali permintaan impor dari China menjadi faktor utama yang menopang harga kedua komoditas tersebut.
Pelaku pasar mencermati prakiraan cuaca panas dan kering di sebagian wilayah Midwest AS yang berpotensi menekan produktivitas tanaman jagung menjelang fase penyerbukan (pollination), periode yang sangat menentukan hasil panen.
Baca Juga: Siap-Siap! Ini Prediksi Wilayah Cuaca Ekstrem Hingga 29 Januari dari BMKG
Kekhawatiran serupa juga muncul di Eropa Barat, yang mengalami gelombang panas sejak awal musim panas tahun ini.
Selain faktor cuaca, kenaikan harga minyak mentah dunia turut memberikan sentimen positif bagi jagung dan kedelai. Komoditas tersebut merupakan bahan baku utama produksi biofuel, sehingga penguatan harga energi cenderung meningkatkan prospek permintaan.
"Investor dengan cepat menambah posisi beli dan terus memantau setiap pembaruan model cuaca di AS untuk melihat perkembangan berikutnya," tulis Peak Trading Research dalam laporannya.
Meski demikian, kondisi tanaman di AS sejatinya masih relatif baik. Laporan mingguan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan 67% tanaman jagung berada dalam kondisi baik hingga sangat baik, tidak berubah dibanding pekan sebelumnya.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem 17-18 Februari di Provinsi Ini, BMKG Minta Masyarakat Waspada
Sementara itu, kualitas tanaman kedelai sedikit menurun, dengan 64% berada pada kategori baik hingga sangat baik, turun satu poin persentase.
Dari sisi permintaan, pasar juga mendapat dorongan setelah perusahaan perdagangan milik pemerintah China, COFCO, dilaporkan membeli sedikitnya lima kargo atau sekitar 300.000 ton kedelai asal AS untuk pengiriman September hingga November.
Pembelian tersebut memperkuat spekulasi bahwa China kembali aktif mengimpor kedelai dari AS, sejalan dengan komitmen kedua negara untuk meningkatkan perdagangan produk pertanian.
Pemerintah AS sebelumnya juga menyebut China berkomitmen membeli hingga 25 juta ton kedelai AS per tahun, meski target tersebut belum pernah dikonfirmasi secara resmi oleh Beijing.
Pada perdagangan Selasa pukul 10.55 GMT, kontrak kedelai paling aktif di CBOT naik 0,15% menjadi US$ 11,94 per bushel.
Baca Juga: Waspada Jakarta! BMKG: Cuaca Ekstrem Mengancam hingga Akhir Januari 2026
Meski sempat menyentuh level tertinggi dalam satu bulan di US$ 11,97¾ per bushel, harga masih berada di bawah level psikologis US$ 12 per bushel.
Harga jagung naik tipis 0,05% menjadi US$ 4,58 per bushel setelah sempat mencetak level tertinggi dalam sebulan di US$ 4,59½ per bushel.
Sementara itu, harga gandum turun 0,08% menjadi US$ 6,13½ per bushel setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam dua pekan.
Tekanan pada harga gandum muncul karena perhatian pasar mulai beralih ke perkembangan panen di belahan bumi utara.
Baca Juga: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Landa Kalteng hingga 16 April, Ini Wilayah Rawan
Meski Arab Saudi baru saja membeli 661.000 ton gandum melalui tender internasional, pelaku pasar menilai dampaknya terbatas karena sebagian besar pasokan diperkirakan berasal dari kawasan Laut Hitam yang menawarkan harga lebih kompetitif.














