kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.557.000   3.000   0,12%
  • USD/IDR 18.093   -96,00   -0,53%
  • IDX 5.030   110,49   2,25%
  • KOMPAS100 648   16,04   2,54%
  • LQ45 514   12,41   2,48%
  • ISSI 166   2,88   1,77%
  • IDX30 289   6,27   2,22%
  • IDXHIDIV20 389   6,59   1,72%
  • IDX80 75   1,80   2,47%
  • IDXV30 108   1,64   1,54%
  • IDXQ30 97   2,23   2,35%

Harga Minyak Brent Rebound ke US$ 95,40, Pasar Masih Cermati Risiko Perang Iran


Kamis, 05 November 2026 / 16:50 WIB
Harga Minyak Brent Rebound ke US$ 95,40, Pasar Masih Cermati Risiko Perang Iran
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Shannon Stapleton)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (5/11/2026), setelah anjlok lebih dari 8% pada sesi sebelumnya.

Investor masih mencermati ketidakpastian arah konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran menyusul kekalahan Partai Republik pimpinan Presiden AS Donald Trump dalam pemilihan sela Kongres.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman naik 78 sen atau 0,8% menjadi US$ 95,40 per barel pada pukul 09.00 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 11 sen atau 0,1% ke US$ 88,23 per barel.

Baca Juga: Bank Sentral Malaysia (BNM) Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 2,75%

Kenaikan ini terjadi setelah kedua kontrak acuan tersebut anjlok lebih dari 8% pada perdagangan sebelumnya dan ditutup di level terendah sejak 31 Agustus 2026.

Analis komoditas UBS Giovanni Staunovo mengatakan, ketidakpastian situasi di Timur Tengah masih menjadi faktor yang mendorong pemulihan terbatas harga minyak.

Menurut dia, harga Brent lebih sensitif terhadap perkembangan geopolitik, sedangkan WTI lebih mencerminkan kondisi pasar minyak domestik AS.

Konflik AS-Israel dengan Iran yang dimulai pada Februari 2026 serta kenaikan harga bahan bakar bagi konsumen AS menjadi salah satu isu yang membebani Partai Republik dalam pemilihan sela pada Selasa (3/11/2026).

Analis Senior Minyak Sparta Commodities June Goh mengatakan, pasar tengah memperhitungkan dampak hasil pemilu terhadap langkah Trump selanjutnya dalam menangani perang Iran. Hasil pemilu tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa konflik berpeluang berakhir.

Baca Juga: Australia Akan Bergabung dalam Operasi Pemadaman Kebakaran Hutan di Indonesia

Namun, Goh mengingatkan volatilitas harga minyak masih berpotensi tinggi karena proses diplomasi untuk mengakhiri perang menghadapi banyak ketidakpastian. Terlebih, cadangan strategis minyak global telah menipis.

Ketidakpastian juga masih membayangi sebelum Kongres baru yang dikuasai Demokrat mulai bertugas pada Januari 2027.

Citi dalam catatannya menyebut terdapat kekhawatiran Gedung Putih justru akan lebih mengandalkan kewenangan eksekutif di bidang kebijakan luar negeri untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Eurasia Group memangkas perkiraan peluang serangan baru AS terhadap Iran menjadi 60% dari sebelumnya 65%.

Namun, lembaga tersebut juga menurunkan peluang tercapainya kesepakatan menjadi 10% dari 20%, karena Iran masih bertahan pada tuntutannya dan Trump dinilai sulit menerima kesepakatan yang dianggap sebagai kekalahan.

Sebaliknya, Eurasia Group menaikkan peluang kebuntuan konflik berkepanjangan menjadi 30% dari sebelumnya 15%.

Baca Juga: Bidik Pasar Obesitas, AstraZeneca Siapkan Akuisisi Rhythm Pharmaceuticals

Eurasia Group memperingatkan, eskalasi konflik dapat mendorong harga minyak Brent melonjak ke kisaran US$ 110–US$ 125 per barel, meskipun harga baru-baru ini mengalami penurunan tajam.

Risiko gangguan pasokan juga kembali mencuat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran pada Kamis menyatakan dua kapal tanker minyak dan satu kapal tunda terbakar dalam insiden terpisah. Ketiga kapal tersebut disebut mencoba menggunakan jalur tidak resmi di Selat Hormuz.

Padahal, pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dari kawasan Teluk, telah pulih mendekati level sebelum perang. Namun, pemulihan tersebut berlangsung dengan biaya yang lebih tinggi.

JPMorgan dalam catatannya pada Rabu (4/11/2026) menyebut kembalinya pasokan dari kawasan Teluk telah mendorong pasar minyak global kembali mengalami surplus setelah berbulan-bulan terganggu konflik.

Baca Juga: Ditunda Dua Tahun, Korea Selatan Akan Berlakukan Pajak Aset Digital pada 2029

JPMorgan memperkirakan surplus pasar minyak mencapai 1,1 juta barel per hari pada September dan melebar menjadi 1,4 juta barel per hari pada Oktober. Angka tersebut hampir menyamai rata-rata surplus tahun lalu sebesar 1,3 juta barel per hari.

Di sisi lain, persediaan minyak komersial di negara-negara konsumen utama berada di sekitar level terendah dalam 15 tahun terakhir.

CEO konsultan energi XAnalysts Mukesh Sahdev juga menilai Iran berpotensi semakin teguh mempertahankan posisinya setelah hasil pemilu AS.

Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan, persediaan minyak mentah, bensin, dan produk distilat AS seluruhnya turun pada pekan lalu.

Penurunan tersebut terjadi ketika permintaan minyak mencapai level tertinggi dalam setahun terakhir.




TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×