Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah dunia cenderung stabil pada perdagangan Jumat (19/6), tetapi masih berada di jalur penurunan mingguan lebih dari 8%.
Pelaku pasar terus mencermati memudarnya prospek gencatan senjata permanen antara Amerika Serikat dan Iran setelah pembicaraan lanjutan dibatalkan, sementara Israel meningkatkan serangan terhadap Lebanon.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat relatif tidak berubah di level US$ 79,78 per barel pada pukul 08.20 GMT (15:20 WIB).
Sementara itu, kontrak Juli minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat yang akan berakhir pada Senin naik hampir US$ 1 atau sekitar 1,3% menjadi US$ 77,59 per barel. Adapun kontrak WTI Agustus yang lebih aktif diperdagangkan menguat 13 sen menjadi US$ 75,98 per barel.
Ketidakpastian pasar meningkat setelah Swiss menyatakan bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan negosiator Iran mengenai kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah tidak akan berlangsung pada Jumat.
Baca Juga: JBIC Bakal Stop Investasi Jepang US$ 550 Miliar ke AS, Ini Penyebabnya
Di saat yang sama, Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan rencana perjalanannya, sehingga menambah keraguan mengenai peluang tercapainya perdamaian yang berkelanjutan.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan para pelaku pasar kini kembali mengevaluasi situasi tersebut. "Para pelaku pasar sedang menilai ulang situasi ini, dengan sebagian mulai kembali skeptis mengenai seberapa cepat kesepakatan tersebut dapat membawa perubahan nyata di lapangan." katanya
Ia menambahkan bahwa harga minyak masih membutuhkan sinyal pemulihan aktivitas pengiriman di Selat Hormuz untuk dapat bergerak lebih rendah.
"Saya pikir agar harga minyak mentah dapat melanjutkan penurunan ke level berikutnya, para pelaku pasar ingin melihat bukti bahwa lalu lintas kapal kembali meningkat di Selat Hormuz. Dalam jangka pendek, harga Brent kemungkinan akan bergerak di kisaran US$ 75 hingga US$ 90 per barel." ujarnya.
Pada perdagangan Kamis, harga Brent dan WTI sempat menyentuh level terendah sejak konflik pecah pada awal Maret.
Penurunan terjadi setelah sejumlah kapal tanker, termasuk tiga kapal berbendera Arab Saudi yang mengangkut sekitar 6 juta barel minyak mentah, berhasil melintasi Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah presiden Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang.
Sejumlah analis memperkirakan perjanjian tersebut berpotensi melepaskan lebih dari 85 juta barel minyak yang selama ini tertahan di kawasan Teluk Timur Tengah ke pasar global.
Baca Juga: Defisit Dagang Membengkak, Uni Eropa Pertimbangkan Langkah Keras kepada China
Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz. Namun, sejumlah lembaga perbankan memperkirakan pemulihan arus pengiriman dan produksi setelah tercapainya kesepakatan AS-Iran masih membutuhkan waktu beberapa bulan.
Lembaga keuangan Citi memproyeksikan dengan probabilitas dasar sebesar 60%, normalisasi arus pasokan akan berlangsung secara berkelanjutan sehingga pasar minyak berpotensi mengalami surplus. Kondisi tersebut diperkirakan akan mendorong harga minyak turun ke kisaran US$ 60 hingga US$ 65 per barel pada kuartal pertama 2027.
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam laporan World Oil Outlook 2026 memperkirakan permintaan minyak global akan meningkat dari 105,1 juta barel per hari pada 2025 menjadi 113,3 juta barel per hari pada 2030.
Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed juga menyatakan bahwa ladang-ladang minyak di negaranya telah siap kembali beroperasi dan produksi akan pulih secara bertahap hingga mencapai tingkat normal seperti sebelumnya.
Meski demikian, prospek pasar energi masih dibayangi risiko geopolitik. Israel diketahui terus melanjutkan operasi militernya terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai seberapa kuat perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran dapat bertahan dalam jangka panjang.













