kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.673.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Defisit Dagang Membengkak, Uni Eropa Pertimbangkan Langkah Keras kepada China


Jumat, 19 Juni 2026 / 16:38 WIB
Defisit Dagang Membengkak, Uni Eropa Pertimbangkan Langkah Keras kepada China
ILUSTRASI. Defisit perdagangan Uni Eropa dengan China capai €1 miliar per hari. (AFP/CN-STR)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Para pemimpin Uni Eropa (UE) membahas kemungkinan penerapan langkah-langkah baru yang lebih tegas untuk mengatasi membengkaknya defisit perdagangan blok tersebut dengan China serta tingginya ketergantungan terhadap negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu dalam pasokan logam tanah jarang (rare earth) dan bahan baku strategis lainnya.

Para diplomat Uni Eropa menyebutkan bahwa mulai muncul kesamaan pandangan di antara 27 negara anggota bahwa defisit perdagangan barang dengan China telah menjadi persoalan serius. Nilainya kini mencapai sekitar 1 miliar euro atau sekitar US$ 1,15 miliar per hari, sementara situasi semakin rumit karena tarif transatlantik mengurangi akses ke pasar Amerika Serikat.

Perdana Menteri Luksemburg Luc Frieden menyatakan dirinya mendukung dialog dengan China, namun menegaskan hubungan dagang harus berlangsung secara adil dan tidak boleh menjadi "jalan satu arah".

Baca Juga: Pasar Kerja AS Melambat, Pengangguran Bertahan Lebih Lama.

Defisit Perdagangan UE-China Terus Membesar

Surplus perdagangan barang China terhadap Uni Eropa mencapai 360,6 miliar euro sepanjang 2025, meningkat 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada empat bulan pertama tahun ini, surplus tersebut kembali bertambah sekitar 10% seiring meningkatnya ekspor perusahaan-perusahaan China ke pasar Eropa dan menurunnya impor dari kawasan tersebut.

Di sisi lain, Beijing juga memanfaatkan dominasinya dalam pemrosesan mineral kritis dengan memberlakukan pembatasan ekspor logam tanah jarang pada April 2025. Kebijakan tersebut merupakan respons terhadap tarif yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan turut memberikan dampak terhadap perusahaan-perusahaan Eropa.

Seorang diplomat Uni Eropa menggambarkan perubahan lanskap global dengan mengatakan: "Kita sekarang hidup di dunia yang penuh dengan serigala. Kita tidak lagi hidup di dunia yang dipenuhi kuda poni merah muda dan pelangi."

Uni Eropa Perlu Diversifikasi Perdagangan

Menyadari pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap satu negara, Uni Eropa dalam setahun terakhir telah menjalin berbagai kemitraan mineral dan perjanjian perdagangan bebas dengan Australia, India, serta Indonesia.

Dalam pertemuan puncak di Brussels, para pemimpin Uni Eropa sepakat bahwa langkah diversifikasi tersebut perlu diperluas.

Mereka meminta Komisi Eropa, sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas kebijakan perdagangan blok, menghasilkan kemajuan nyata dari dialog dengan para mitra dagang utama sekaligus memastikan Uni Eropa memiliki instrumen yang memadai untuk melindungi kepentingan ekonominya.

Baca Juga: Defisit Perdagangan Membengkak, Uni Eropa Tekan Transaksi Dagang Dengan China

Perbedaan Pendekatan di Antara Negara Anggota

Meski sepakat mengenai adanya persoalan dengan China, negara-negara anggota masih berbeda pandangan mengenai respons yang harus diambil.

Prancis mendorong pendekatan yang lebih keras terhadap Beijing. Sebaliknya, Jerman sebagai eksportir terbesar di Uni Eropa dan Spanyol yang semakin banyak menerima investasi dari China memilih bersikap lebih hati-hati.

Perbedaan tersebut terlihat bulan lalu ketika Prancis, Italia, Belanda, dan Lithuania mengusulkan agar Uni Eropa mempertimbangkan kebijakan baru untuk membatasi ketergantungan berlebihan terhadap satu negara asing, termasuk kemungkinan penerapan bea tambahan atau kuota guna melindungi produsen domestik.

Spanyol yang semula tercantum sebagai penandatangan kemudian mengambil jarak dari usulan tersebut.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menegaskan: "Kita membutuhkan teman, kita membutuhkan hubungan yang seimbang. Kita perlu bersikap pragmatis dan membangun jembatan baik dengan ekonomi-ekonomi besar yang berpotensi menjadi sekutu seperti China maupun dengan sekutu tradisional seperti Amerika Serikat."

Kebijakan Anti-Dumping Dinilai Perlu Diperkuat

Saat ini kebijakan perlindungan perdagangan Uni Eropa sebagian besar memang berfokus pada China. Dari 21 investigasi baru terkait praktik anti-dumping dan subsidi, sebanyak 18 di antaranya menyasar produsen asal China.

Uni Eropa juga telah mengenakan tarif tambahan terhadap kendaraan listrik impor buatan China sejak 2024. Kebijakan tersebut memicu aksi balasan Beijing terhadap produk susu dan minuman brendi asal Eropa.

Namun, sejumlah pengamat menilai mekanisme investigasi perdagangan Uni Eropa masih berjalan terlalu lambat dan perlu diprioritaskan berdasarkan tingkat urgensi, bukan semata-mata berdasarkan urutan masuknya perkara.

Baca Juga: Harga Emas Turun, Permintaan di India Menguat, Pasar China Berbalik Diskon

Mereka juga menilai cakupan investigasi saat ini terlalu sempit sehingga produsen China masih dapat menghindari dampak tarif melalui penyesuaian strategi ekspor.

Komisi Eropa mengakui impor kendaraan listrik asal China memang sempat turun setelah tarif diberlakukan, tetapi produsen China justru meningkatkan pengiriman kendaraan hibrida. Bahkan, impor kendaraan listrik tersebut kembali meningkat pada kuartal pertama tahun ini.

Tinjauan Kebijakan Akan Dilakukan Tahun Ini

Komisi Eropa dijadwalkan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan perdagangan pada kuartal ketiga tahun ini. Dalam kajian tersebut, muncul wacana penerapan instrumen baru untuk mengatasi kelebihan kapasitas produksi dan mengurangi ketergantungan terhadap pemasok tunggal, terutama China.

Untuk sektor-sektor yang dianggap sensitif, perusahaan-perusahaan di Uni Eropa bahkan dapat diwajibkan memiliki sedikitnya tiga alternatif sumber pasokan guna memperkuat ketahanan rantai pasok dan mengurangi risiko geopolitik di masa depan


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×