Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Uni Eropa mulai semakin waspada terhadap ketergantungan ekonominya pada China. Para pemimpin negara anggota Uni Eropa pada Kamis (18/6) membahas berbagai langkah baru untuk mengurangi defisit perdagangan yang terus membengkak dengan Negeri Tirai Bambu sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan mineral strategis dari China.
Mengutip Reuters (19/6), perhatian Uni Eropa terhadap China semakin besar seiring melonjaknya defisit perdagangan barang yang kini mencapai sekitar € 1 miliar per hari. Kondisi tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan ketika akses ke pasar Amerika Serikat juga menghadapi tekanan akibat meningkatnya kebijakan tarif perdagangan lintas Atlantik.
Data menunjukkan surplus perdagangan barang China dengan Uni Eropa mencapai € 360,6 miliar pada 2025 atau naik 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Tren itu berlanjut pada empat bulan pertama 2026 dengan kenaikan surplus sekitar 10%, didorong peningkatan ekspor China ke Eropa dan berkurangnya impor dari kawasan tersebut.
Selain persoalan perdagangan, Uni Eropa juga menyoroti dominasi China dalam rantai pasok mineral kritis. Pada April 2025, Beijing membatasi ekspor rare earth atau tanah jarang sebagai respons atas tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kebijakan tersebut turut menekan sejumlah perusahaan Eropa yang bergantung pada pasokan bahan baku tersebut.
Baca Juga: Uni Eropa Kenakan Tarif Tambahan Mobil Hybrid China, BYD hingga SAIC Jadi Sasaran
Meski memiliki pandangan yang sama mengenai risiko ketergantungan terhadap China, negara-negara Uni Eropa masih berbeda pendapat mengenai langkah yang harus diambil. Prancis mendorong kebijakan yang lebih tegas untuk melindungi industri domestik. Sebaliknya, Jerman dan Spanyol memilih pendekatan yang lebih hati-hati karena hubungan ekonomi mereka yang erat dengan China.
Perdana Menteri Luksemburg Luc Frieden mengatakan, dialog dengan China tetap perlu dilakukan, namun hubungan dagang harus berlangsung secara adil dan saling menguntungkan. Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menegaskan, pentingnya menjaga hubungan yang seimbang dengan China maupun Amerika Serikat.
Di sisi lain, Uni Eropa terus memperkuat instrumen perlindungan perdagangannya. Dari 21 penyelidikan baru terkait praktik dumping dan subsidi, sebanyak 18 kasus menyasar produsen asal China. Sejak 2024, Uni Eropa juga mengenakan tarif tambahan terhadap kendaraan listrik buatan China, yang kemudian dibalas Beijing dengan pembatasan terhadap sejumlah produk Eropa.
Ke depan, Komisi Eropa berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pertahanan perdagangan pada kuartal III-2026. Salah satu opsi yang tengah dibahas adalah mewajibkan perusahaan-perusahaan Eropa memiliki minimal tiga sumber pasokan alternatif untuk sektor-sektor strategis guna mengurangi ketergantungan terhadap satu negara pemasok, terutama China.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa Uni Eropa kini tidak hanya berupaya mengurangi ketidakseimbangan perdagangan dengan China, tetapi juga memperkuat ketahanan rantai pasoknya di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Baca Juga: Rusia Soroti Langkah AS dan UE Amankan Mineral Kritis di Asia Tengah













