Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Rusia menyatakan kekhawatiran terhadap upaya Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) untuk mengamankan akses terhadap logam tanah jarang (rare earth) dan mineral penting di kawasan Asia Tengah, demikian disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Galuzin kepada harian Izvestia.
Baca Juga: Yield Obligasi Jepang Dekati Rekor, Pasar Menanti Lelang 20 Tahun
Dalam upaya mengurangi ketergantungan pada China yang mendominasi rantai pasok logam tanah jarang global untuk teknologi seperti kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga sistem pertahanan, negara-negara G7 termasuk AS dan UE diketahui tengah mencari alternatif sumber pasokan serta memperkuat kerja sama di pasar baru.
Rusia menilai negara-negara Asia Tengah yang kaya sumber daya, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan masih berada dalam lingkup pengaruhnya, di tengah meningkatnya perhatian China terhadap kawasan tersebut.
“Kami khawatir dengan intensitas Washington yang mendorong kesepakatan terkait mineral kritis dan logam tanah jarang,” kata Galuzin dalam wawancara yang dipublikasikan Rabu (20/5/2026).
“Ini bukan sekadar kompetisi ekonomi, tetapi upaya untuk mendorong Rusia keluar dan membangun infrastruktur yang dikendalikan Barat di wilayah yang berdekatan dengan perbatasan kami,” tambahnya.
Baca Juga: Vance Pastikan Perang AS-Iran Tak Berlangsung Lama, Tekanan Politik Trump Menguat
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut mineral kritis sebagai prioritas utama saat menjamu para pemimpin lima negara Asia Tengah di Gedung Putih pada November lalu.
Ia menegaskan upaya pemerintahannya untuk memperluas dan mengamankan rantai pasok AS melalui berbagai kesepakatan global baru.













