kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   -20.000   -0,77%
  • USD/IDR 17.957   16,00   0,09%
  • IDX 5.871   -64,88   -1,09%
  • KOMPAS100 757   -8,82   -1,15%
  • LQ45 583   -7,70   -1,30%
  • ISSI 204   -2,36   -1,15%
  • IDX30 325   -4,93   -1,50%
  • IDXHIDIV20 418   -5,08   -1,20%
  • IDX80 87   -1,05   -1,20%
  • IDXV30 115   -1,13   -0,98%
  • IDXQ30 107   -1,55   -1,43%

Harga Minyak Brent Turun ke US$ 106 Selasa (13/10), Risiko Pasokan Teluk Membayangi


Selasa, 13 Oktober 2026 / 08:27 WIB
Harga Minyak Brent Turun ke US$ 106 Selasa (13/10), Risiko Pasokan Teluk Membayangi
ILUSTRASI. Harga Minyak Mentah Dunia (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026), setelah melonjak hampir US$ 2 per barel pada sesi sebelumnya.

Pelaku pasar menimbang potensi tambahan pasokan diesel dari Rusia di tengah risiko gangguan pasokan energi akibat serangan di kawasan Teluk.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman mendatang turun 61 sen atau 0,57% menjadi US$ 106,04 per barel pada pukul 00.00 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 47 sen atau 0,5% menjadi US$ 93,27 per barel.

Baca Juga: Harga Emas Spot Turun ke US$ 4.161 per Ons Troi Selasa (13/10), Ini Pemicunya

Pada perdagangan Senin (12/10/2026), harga Brent ditutup di level US$ 106,65 per barel, tertinggi sejak 15 September.

Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Rusia telah sepakat memasok diesel ke pasar global.

Pemerintahan Trump juga untuk sementara melonggarkan sanksi AS terhadap bahan bakar Rusia yang sebelumnya dirancang untuk membatasi pendapatan Moskow dalam perang melawan Ukraina.

Tambahan pasokan diesel berpotensi meredakan ketatnya pasar bahan bakar global dan mengurangi sebagian kekhawatiran pasokan yang belakangan menopang harga minyak mentah.

Namun, kesepakatan tersebut menuai kritik dari anggota parlemen AS lintas partai. Mereka menilai kesepakatan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin berpotensi melanggar undang-undang AS yang melarang impor energi Rusia hingga Moskow menghentikan agresinya terhadap Ukraina.

Baca Juga: Eks CEO Bukalapak Willix Halim Gabung Canva, Ini Tugas Barunya

Kepala Analis KCM Trade Tim Waterer mengatakan, prospek tambahan pasokan diesel Rusia dan stabilnya aliran pasokan dari Arab Saudi memberikan sedikit kelegaan bagi pasar.

Meski demikian, risiko serangan lanjutan terhadap kapal maupun jaringan pipa energi di kawasan Teluk masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.

“Pasar tampaknya masih lebih mengkhawatirkan risiko serangan lanjutan terhadap kapal atau jaringan pipa di Teluk dibandingkan merasa lega atas tambahan pasokan minyak,” kata Waterer.

Ia menambahkan, selama belum ada tanda-tanda deeskalasi konflik yang lebih jelas, kecenderungan pergerakan harga minyak masih mengarah pada penguatan.

Risiko Gangguan Pasokan Teluk Masih Membayangi

Kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk masih menjadi faktor penting bagi pasar minyak.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyerang Bandara Internasional Riyadh pada akhir pekan lalu. Serangan terhadap kapal tanker juga dilaporkan terjadi di dekat Selat Hormuz, salah satu jalur transit energi terpenting di dunia.

Baca Juga: Rusia Menyatakan Ekspor Solarnya Kemungkinan Lebih Besar dari yang Diumumkan Trump

Rangkaian insiden tersebut mengancam pemulihan pasokan energi Timur Tengah yang mulai terlihat pada September. Pelaku pasar pun mengantisipasi kemungkinan gangguan lanjutan terhadap pengiriman minyak mentah dan produk olahan.

Menteri-menteri negara anggota OPEC dan negara produsen non-OPEC dalam kerangka Declaration of Cooperation menyatakan, biaya pengiriman dan asuransi melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni lebih dari sepertiga nilai komoditas.

Kenaikan biaya ini menghambat kelancaran distribusi minyak mentah dan produk turunannya.

Di sisi permintaan, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak tahun ini menjadi 400.000 barel per hari (bph), dari perkiraan awal tahun sebesar 1,4 juta bph.

Sekretaris Jenderal OPEC Haitham Al Ghais mengatakan, revisi tersebut sejalan dengan perkembangan pasar sepanjang tahun ini.

Baca Juga: 10 Kota Paling Ramah di Dunia 2026, Melbourne Teratas dan 3 Ada di Asia

Dengan demikian, harga minyak masih menghadapi dua faktor yang saling berlawanan. Tambahan pasokan diesel Rusia dan proyeksi pertumbuhan permintaan yang lebih rendah berpotensi menahan harga, sementara risiko gangguan pengiriman dan infrastruktur energi di kawasan Teluk masih memberikan tekanan ke atas.




TERBARU

[X]
×