Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Rusia menyatakan akan mampu mengembalikan ekspor solar mendekati tingkat sebelumnya dan melampaui jumlah yang disebutkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Trump mengumumkan pada hari Jumat bahwa Rusia telah setuju untuk memasok solar ke pasar global, dan pemerintahannya untuk sementara mencabut sanksi AS terhadap bahan bakar Rusia—sanksi yang awalnya dirancang untuk memutus aliran pendapatan Moskow bagi perang di Ukraina.
"Kita lihat bagaimana situasi berkembang lebih lanjut, namun Rusia memiliki kapasitas untuk meningkatkan ekspor bahan bakar solar," kata Wakil Perdana Menteri Alexander Novak, pejabat utama Presiden Vladimir Putin untuk urusan minyak, di saluran TV pemerintah Rossiya-24.
Baca Juga: 10 Kota Paling Ramah di Dunia 2026, Melbourne Teratas dan 3 Ada di Asia
"Menjelang akhir tahun, ekspor bisa mencapai 3,0-3,5 juta metrik ton per bulan, kembali ke tingkat sebelum krisis," ujarnya.
Sebelum Ukraina melancarkan serangkaian serangan pesawat nirawak (drone) terhadap kilang minyak Rusia pada tahun 2024-2025, ekspor solar Rusia mencapai lebih dari 3 juta metrik ton per bulan.
Meskipun ada larangan ekspor yang diberlakukan sendiri, Moskow terus memasok solar ke berbagai negara—terutama di Asia Tengah—berdasarkan kesepakatan pemerintah.
Menurut sumber industri, ekspor solar Rusia ke Asia Tengah pada bulan lalu mencapai 427.000 ton.
Lonjakan harga solar di AS berdampak buruk bagi para pengemudi truk dan petani di negara tersebut, serta menjadi perhatian bagi para pemilih dan partai politik menjelang pemilihan umum sela AS pada 3 November.
Novak juga menyatakan bahwa berdasarkan kesepakatan dengan Trump, pasokan solar dari Rusia akan turut menyeimbangkan pasokan dan permintaan global.
"Kami sudah melihat dampaknya, termasuk di pasar solar global, di mana harga telah turun sekitar 5-6%," ujar Novak.
Pada hari Jumat, Trump mengatakan bahwa Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 metrik ton (2,25 juta barel) solar ke pasar AS dan pasar global.
Baca Juga: Ukraina Berharap UE Buka Dua Tahap Negosiasi Keanggotaan pada Selasa (13/10)
Jumlah tersebut bahkan kurang dari pasokan untuk kebutuhan satu hari sektor transportasi AS saja; data Badan Informasi Energi (EIA) AS menunjukkan konsumsi harian mencapai sekitar 2,94 juta barel.
Trump juga menyebutkan bahwa Rusia akan memasok tambahan 500.000 ton pada bulan November dan 1 juta ton lagi "segera setelahnya".













