Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia turun sekitar 5% ke level terendah dalam dua pekan pada perdagangan Senin (25/5/2026), seiring meningkatnya optimisme pasar bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan damai.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 5,04 atau 4,9% menjadi US$ 98,50 per barel pada pukul 13.27 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah US$ 4,82 atau 5% ke level US$ 91,78 per barel.
Baca Juga: Dolar AS Melemah, Harga Minyak Turun di Tengah Harapan Kesepakatan Selat Hormuz
Kedua kontrak tersebut tercatat menyentuh level terendah sejak 7 Mei 2026.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Washington dan Iran telah mencapai pemahaman awal terkait kesepakatan damai yang berpotensi membuka kembali jalur perdagangan Selat Hormuz.
Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Meski demikian, sejumlah isu penting masih menjadi ganjalan dalam negosiasi kedua negara.
Trump pada Minggu (24/5) mengatakan dirinya meminta tim negosiator AS untuk tidak terburu-buru menyepakati perjanjian dengan Iran.
Baca Juga: Utusan Senior Iran Dikabarkan Bahas Peluang Kesepakatan Damai dengan AS di Qatar
Analis Sparta Commodities June Goh mengatakan, kekurangan pasokan minyak global sekitar 10 juta hingga 11 juta barel per hari belum akan langsung pulih meskipun kesepakatan damai tercapai.
“Pasar masih akan mengandalkan cadangan minyak hingga produksi minyak Timur Tengah kembali normal, yang kemungkinan membutuhkan waktu beberapa bulan,” ujarnya.
Di sisi lain, pejabat Iran dan Qatar juga dilaporkan menggelar pembicaraan lanjutan terkait potensi kesepakatan dengan AS.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa fokus utama Iran saat ini adalah mengakhiri perang, bukan membahas isu nuklir.
Baca Juga: Ancaman Ebola Mengintai, 220 Kematian Terduga Saat Epidemi Melampaui Kendali
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai, pasar minyak masih akan sangat dipengaruhi oleh kondisi arus pasokan fisik minyak melalui Selat Hormuz.
“Kami masih melihat faktor utama yang perlu diperhatikan pasar adalah kelancaran arus minyak secara fisik. Saat ini aliran melalui Selat Hormuz masih terbatas,” katanya.
Data pelayaran menunjukkan dua kapal tanker LNG mulai keluar dari Selat Hormuz menuju Pakistan dan China pada Senin.
Selain itu, kapal supertanker pengangkut minyak mentah Irak juga dilaporkan telah meninggalkan kawasan Teluk menuju China setelah sempat tertahan hampir tiga bulan.
Sementara itu, perusahaan energi di AS mulai meningkatkan aktivitas pengeboran seiring tingginya harga energi domestik.
Baker Hughes mencatat jumlah rig minyak dan gas di AS naik tujuh unit menjadi 558 rig pada pekan hingga 22 Mei 2026, level tertinggi sejak Juni 2025.
Meski demikian, jumlah tersebut masih lebih rendah delapan rig dibandingkan periode yang sama tahun lalu.













