Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026) seiring investor terus mencermati jeda serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.
Kondisi tersebut memunculkan harapan adanya solusi diplomatik yang dapat meredakan konflik sekaligus memulihkan kelancaran pasokan energi dari Timur Tengah.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 0,54 atau 0,6% menjadi US$ 87,82 per barel pada pukul 00.46 GMT.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 0,66 atau 0,8% ke level US$ 81,95 per barel.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok 7% Selasa (28/7), Persaingan Chip China Memanas
Sebelumnya, kedua kontrak sempat merosot sekitar 1% ke level terendah dalam lebih dari sepekan.
Presiden AS Donald Trump pada Senin (27/7) mengatakan bahwa negaranya tengah melakukan "pembicaraan yang baik" dengan Iran dan masih terbuka peluang tercapainya penyelesaian konflik.
Meski demikian, Trump menegaskan serangan AS dapat kembali dilanjutkan apabila perundingan gagal. Iran juga menyampaikan peringatan serupa terkait kemungkinan aksi balasan.
Analis IG Tony Sycamore mengatakan, untuk sementara waktu pasar menyambut positif peluang meredanya konflik sehingga tekanan terhadap harga minyak berkurang.
Baca Juga: Donald Trump: AS dan Iran Sedang Melakukan Perundingan yang Bagus
"Untuk saat ini, harapan adanya jalan keluar telah meredakan tekanan harga minyak dan mengurangi kekhawatiran atas serangan Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi. Namun, situasi tetap sangat dinamis," tulis Sycamore dalam catatan risetnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri terpilih Yaman dari pemerintahan yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi, Afrah al-Zouba, mengatakan kelompok Houthi berupaya meniru kontrol Iran atas jalur pelayaran di Selat Hormuz dengan memperluas pengaruhnya di Selat Bab el-Mandeb.
Analis Marex Edward Meir menilai kemampuan Houthi untuk memberlakukan blokade penuh masih diragukan, mengingat Arab Saudi diperkirakan akan terus melancarkan serangan terhadap kelompok tersebut.
"Kendati demikian, tidak diragukan lagi bahwa lalu lintas kapal di Laut Merah dan Selat Hormuz telah turun secara signifikan," ujar Meir.
Menurutnya, salah satu alasan harga minyak tidak melonjak lebih tinggi adalah melemahnya permintaan, terutama dari kawasan Asia.
Sementara itu, analis Barclays dalam riset yang dirilis Senin (27/7) menyebut arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih berada di level rendah.
Baca Juga: Dolar AS Bertahan di Puncak Sebulan, Cermati Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed
Pada pekan yang berakhir 24 Juli, ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan melalui selat tersebut rata-rata hanya mencapai 2,9 juta barel per hari, turun dari 5,9 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.
Di Amerika Serikat, jajak pendapat awal Reuters menunjukkan persediaan minyak mentah dan bensin diperkirakan menurun pada pekan lalu, sementara stok distilat diperkirakan meningkat. Data resmi mengenai persediaan energi AS akan menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar dalam beberapa hari ke depan.














